Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Masyarakat Pada Abad Hindu-Buddha Di Indonesia : Pemerintahan, Perkembangan Dan Kebudayaan Lengkap

Konten [Tampil]

Perkembangan Masyarakat, Kebudayaan, dan Pemerintahan Pada Masa Hindu-Buddha di Indonesia



Pengaruh Hindu-Buddha begitu luasnya di Indonesia. dan hampir tidak ada pulau besar yang tidak menerima pengaruh, kecuali Papua, Maluku dan sekitarnya, serta pulau-pulau di Nusa Tenggara.


 Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur √ Masyarakat Pada Masa Hindu-Buddha di Indonesia : Pemerintahan, Perkembangan dan Kebudayaan Lengkap


Penyebab utama tidak masuknya efek Hindu dan Buddha di wilayah Indonesia penggalan timur tersebut, lantaran dianggap.terlalu jauh untuk dijangka pada ketika itu. Selain itu, tempat Nusantara amat luas dan terdiri atas puluhan ribu pulau yang terhampar dan barat hingga ke timur, sehinggasangat memungkinkan untuk tidak terjangkau oleh efek Hindu dan Buddha masa itu.


Daerah yang menerima efek Hindu-Buddha di Indonesia sanggup dilthat dan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, ibarat Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Tarumanegara di Jawa Barat, Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sriwijaya di Sumatera, Kediri di Jawa Timur, Singasari di Jawa Timur, dan Kerajaan Majapahit di JawaTimur.


Dan beberapa kerajaan tersebut, kita sanggup melihat bagaimana perkembangan masyarakat, kebudayaan, maupun pemerintahan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia.


Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur


Kerajaan Kutai berdiri sekitar tahun 400-500 Masehi, dengan sentra kerajaan terletak pada anutan Sungai Mahakam kalimantan Timur. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia.


Perkembangan masyarakatnya sudah Lebih maju dibanding sebelum ada kerajaan. Kebudayaannya berkembang bersamaan dengan kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Pemerintahannya berkembang seiring dengan perkembangan kerajaan itu sendiri.


Raja yang populer ialah Raja Mulawarman, anak dari Aswawarman, cucu dan Kudungga, raja pertama Kutai. Raja Mulawarman ialah penganut Hindu Syiwa.


Hal ini ditunjukkan dengan adanya bukti dan salah satu prasastinya yang menyebutkan tempat suci Waprakeswara, yaitu tempat suci yang selalu disebut bekerjasama dengan Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Syiwa.


Bukti yang mendukung adanya Kerajaan Kutai ialah ditemukannya tujuh buah Yupa (tugu watu bertulis untuk peringatan upacara korban) di daerah anutan Sungai Mahakam. Yupa dibentuk atas perintah Raja Mulawarman.


Kerajaan Kutai mengalami perkembangan yang pesat lantaran letaknya yang strategis, yaitu sebagai persinggahan kapal-kapal yang menempuh perjalanan melalui Selat Makassar.


Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.


Kerajaan Tarumanegara berdiri kurang lebih pada kala ke—5 Masehi, di Jawa Barat dengan rajanya berjulukan Purnawarman. Kerajaan Tarumanegara ialah kerajaan yang menerima efek agama Hindu.


Perkembangan masyarakat yang duhmya hanya hidup berkelompok, dengan adanya kerajaanmenjadi lebih tertata. Sedangkan kebudayaannya berkembang saling mempengaruhi dengan kebudayaan usang sebelum masuknya efek Hindu  pmerintahannya berkembang seiring dengan perkembangan zaman.


Bukti yang mendukung adanya Kerajaan Tarumanega yaitu dengan diketemukannya tujuh buah prasasti di daerahBogor, di Jakarta, dan di Lebak Banten, serta adanya informasi dari Cina.


Prasasti-praSastl tersebut ialah Prasasti Ciaruteun. Prasasti Pasir Koleangkak atau Prasasti Jambu, Prasasti Kebon. Kopi, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Muara Cianten, dan Prasasti Cidanghiaflg atau Lebak.


Prasasti Tugu sebagai salah satu bukti yang mendukung adanya Kerajaafl Tarumanegara, isinya menyatakan letak ibukota Kerajaan Tarumaflegara. Prasasti mi juga menandakan penggalian Sungai Cabdrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada masa


Pemerintahannya. Penggalian ini dimaksudkan untuk menghindari musibah berupa banjir dan kekeringan yang terjadi pada demam isu kemarau.


Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur


Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah. dengan sentra lembah Kali Progo, yang mencakup Magelang Muntilan, Sleman, dan Yogyakarta. Ibukotanya Medang Kamulan, dengan raja yang pertama kali memerintah ialah Raja Sanjaya, pengariut Hindu.


Sumber informasi adanya Kerajaan Mataram Kuno ialah Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi, dikeluarkan oleh Raja Sanjaya, berisi perihal pendirian sebuah Lingga di Desa Kunjarakunja. Prasasti Canggal memakai abjad Pallawa dan bahasa Sansekerta.


Keadaan masyarakatnya sudah lebih maju, lantaran bekerjsama sudah ada kerajaan di Jawa Tengah, namun bukti yang menunjukkannya kurang jelas. Demikian pula perkembangan kebudayaan juga sudah lebih maju. Sedangkan perkembangan pemerintahannya sanggup diketahui peninggalan sejarah yang ada, semenjak zaman Raja Sanjaya.


Sanjaya menaklukkan daerah sekitar Mataram Kuno, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, bahkan memerangi juga Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Setelah Sanjaya wafat, digantikan oleh putranya yang berjulukan Panangkaran. Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran agama Buddha mulai masuk ke Jawa Tengah sehingga keturunan Syailendra sudah ada yang memeluk agama Buddha.


Setelah Raja Panangkaran wafat, Kerajaan Mataram Kuno terpecah menjadi dua. Keturunan Syailendra yang beragama Hindu membangun Kerajaan Mataram di Jawa Tengah penggalan utara.


Mereka membangun candi-candi Hindu, antara lain di komplekS Candi Dieng, yang terdiri atas Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Puntadewa, Candi Nakula, dan Candi Sadewa.


Keturunan Syailendra yang beragama Budha membangun Kerajaan Mataram di Jawa tengah penggalan selatan. Mereka membangun candi-candi Buddha, antara lain Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Kalasan, Candi Sari, dan Candi Borobudur.  Candi Borobudt dibangun pada ketika pemerintahan Raja Samaratungga sekitar tahun 850 masehi.


Raja Samaratungga yang memerintah Mataram Kuno di Jawa Tengah penggalan selatan, memiliki dua orang putera dari isteri yang berlainan.



  • Prainodhawardhani, yang kemudian dikawinkan dengan Rakai Pikatan, pengganti Rakai Garung yang memerintah Jawa Tengah penggalan utara.

  • Balaputradewa hasil perkawinan Raja amaratungga dengan seorang puteri dan Kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa memerintah Jawa Tengah penggalan selatan tahun 833-856 Masehi.


Setelah Raja Samaratungga wafat, kedudukannya digantikan oleh Balaputradewa. Beberapa ketika kemudian  terjadi perang saudara di Mataram Kuno dengan wilayah Jawa Tengah penggalan selatan. Perang saudara tersebut antara Pramodhawardhani dengan suaminya(Rakai Pikatan) di satu pihak, melawan Balaputradewa di pihak yang lain


Pada tahun 856 M, Rakai, Pikatan berhasil mengusir Balaputradewa yang kemudian melarikan diri ke sriwijaya. Akhirnya Pramodhawardhani bahu-membahu suaminya (Rakai Pikatan) sanggup memerintah kerajaan dengan tenang.


Pramodhawardhani mendirikan Candi Plaosan (Candi Sewu) yang bersifat Buddha. Sedangkan suaminya (Rakai Pikatan) mendirikan bangunan yang bersifat Hindu, dan memprakarsai pembangunan Candi Prambanan.


Setelah Rakai Pikatan wafat, berturut-turut yang menggantikannya ialah Rakai Kayuwangi Kakai Watuhumalang, Rakai Watukura Dyah Balitung, Raja Daksa, Raja Tulodong, Raja Wawa (merupakan Dinasti Sanjaya yang terakbir).


Pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, dengan sentra pemerintahannya di antara Gunung Semeru dan Gunung Wills. Kerajaan gres ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan disebut Medang. Mpu Sindok merupakan raja pertama dan Dinasti Isyana yang memerintah tahun 929-947 M di Kerajaan Medang.


Sebelum sentra pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur, bekerjsama Mpu Sindok sudah sering ditugaskan ke Jawa Timur, termasuk memperoleh kemenangan yang gilang gemilang melawan tentara Sriwijaya di bumi Anjuk Ladang pada tahun 927M.


Hal ini dibuktikan dengan adanya Prasasti Anjuk Ladang di Nganjuk Jawa Timur, yang berangka tahun 937 M. Prasasti Anjuk Ladang ialah Tugu Kemenangan Mpu Sindok melawan tentara Sriwij4va yang melibatkan rakyat Anju. Ladang yang telah membantu usaha Mpu Sindok sepuluh tahun sebelumnya.


Raja yang memerintah Mataram Kuno sesudah Mpu Sindok ialah Sri Isyanatunggawijaya,  Makutawangsawardhana, Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa, dan Airlangga.


Kerajaan medang dengan meninggalnya Mpu Sindok seakan karam dalam sejarah, lantaran raja-raja penggantinya sangat pelit mewariskan bukti peninggalan sejarah bagi generasi sekarang, shmgga nenyulitkan penelusurannya.


Namun Prasasti Bandar Alim yang ditulis oleh Kaki Manta tahun 907 Caka (985 Masehi), yang ditemukan di Bandar Alim, desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten nganjuk, Jawa Timur, yang kini disimpan di Museum trowulan, Mojokerto paling tidak telah memperlihatkan sumbangan yang tiada terhingga bagi penelusuran sejarah, khususnya Kerajaan Medang.


Kerajaan Sriwijaya di Sumatera


Sumber pengetahuan perihal Kerajaan Sriwijaya ada yaitu dan prasasti dan dan informasi Cina. Prasasti-prasasti yang merupakan sumber sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya ditulis dengan abjad Pallawa dengan memakai Bahasa Melayu Kuno.


Prasasti-pras asti tersebut antara lain Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Prasasti Talang Tuo (684M), Prasasti Palas pasemah, Prasasti Kota Kapur (686 M), Prasasti Karang Berahi (686 M), dan Prasasti Nalanda (India).


Perkembangan masyarakatnya sudah jauh lebih maju seiring dengan perkembangan kebudayaan maupun perkembangan pemerintahan di Kerajaan Sriwijaya.


Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada kala ke-7 dan ke-8 Masehi, terutama ketika diperintah oleh Raja Balaputradewa. yang berasal dan Jawa Tengah.


Balaputradewa ialah anak SamaratUflgga, Raja Mataram Kuno. Ta melarikan din ke Sriwijaya lantaran kalah perang melawan saudaranya (satu ayah lain ibu), yaitu Pramodhawardha dengan suaminya Rakai Pikatan.


Kejayaan Sriwijaya sanggup dilihat dan keberhasilannya di beberapa bidang, antara lain di bidang maritim, menguasai jalur perdagangan melalui Selat Malaka, Selat Sunda. Semenanjung Malaya, dan sebagainya. Sriwijaya pun juga menjalin hubungan dagang yang baik dengan India, Cina, dan bangsa-bangSa lain.


Selain menonjol di bidang maritim, Kerajaan Sriwij4va juga maju dalam bidang politik, ekonomi, dan agama Buddha Dalam bidang politik, Kerajaan Sriwijaya ialah negara nasional pertama Indonesia, lantaran daerahnya luas mencakup banyak sekali kepulauafl di Indonesia.


Dalam bidang ekonomi, Kerajaan Sriwijaya menguasai perdagangan wilayah perairan Asia Tenggara.


Dalam bidang agama Buddha Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sentra agama Buddha Mahayana di Asia Tenggara, dengan salah satu gurunya yang populer berjulukan Sakyakirti.


Masa keruntuhan KerjaanSriwijaya pada simpulan kala ke-12, disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut.



  • Berulangkali diserang Kerajaan Golamandala dan India

  • Terdesak dan dua jurusan, yaitu Kerajaan Thailand dan Kerajaan Singosari.

  • Banyak raja-raja takiukan yang melepaskan diri, antara lain Ligor, Tanah Gentirig Kra, Kelantan, Pahang, Jambi dan Sunda.

  • Mengalami kemunduran perekonomian dan perdagangan, lantaran bandar-bandar penting melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya.


Kerajaan Kediri di Jawa Timur


Airlangga memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua, yaitu Jenggala dan Kediri untuk dua orang putranya semoga tidak terjadi pertumpahan darah atau perang saudara. Namun usaha ini tidak berhasil, mereka selalu berselisih. Perang saudara tersebut dimenangkan oleh Kediri. Kerajaan Kediri kesudahannya tumbuh menjadi kerajaan besar.


Pada masa Kerajaan Kediri, perkembangan masyarakatnya sudah jauh lebih maju dibandingkan masyarakat yang hidup pada masa-masa sebelumnya. Demikian pula dengan kebudayaannya yang maju pesat seiring dengan perkembangan pemerintahannya.


Raja Kediri yang populer ialah Raja Jayabaya (1135-1157). Pada masa pemerintahan Raja Jayabaya, telah ditulis sebuah Kitab Kakawin dengan nama Bharatayudha oleh Empu Sedah yang diteruskan oleh Empu Panuluh lantaran Empu Sedah meninggal dunia.


Kitab Kakawin Bharatayudha menggambarkan perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Kitab ini banyak diilhami oleh perang saudara yang terjadi antara Kerajaan Jenggala melawan Kerajaan Panjalu (Kediri).


Kerajaan Singosari


Tumapel di daerah Malang yang masuk wilayah Kerajaan Kediri, dikepalai seorang Akuwu yang berjulukan Tunggul Ametung, yang mati dibunuh Ken Arok dengan Keris Mpu Gandring. Ken Arok mengadakan pemberontakan dan berhasil membunuh semua penguasa Kediri, termasuk rajanya ketika itu, yaitu Kertajaya.


Kerajaan dipindah ke Singosari cengan Ken Arok sebagai raja yang pertama, dan pendiri Dinasti Rajasa atau Dinasti Girindra. Ken Arok ialah cikal bakal raja-raja di Singosari dan Majapahit.


Perkembangan masyarakat pada zaman Kerajaan Singosari sudah sangat maju. Demikian pula perkembangan kebudayaan maupun perkembangan pemerintahannya, yang nampak dan peninggalan- peninggalan sejarahnya.


Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222-1227), lantaran ia pada tahun 1227 dibunuh oleh seorang pengalasan atas perintah Anusopati (anak Ken Dedes dan Tunggul Ametung), dengan memakai Keris Empu Gandring.


Setelah Ken Arok, yang menjadi raja Singosari berturut-tUrut ialah Anusopati (1227-1248 M), Tohjaya (1248 M), RanggawUflh/ Wisnuwar ana (1248-1268 M), dan Kertanegara (1268-1292 M).


Pada zaman Raja Kertanegara, wilayah kekuasaan Kerajaan Singosari menjadi sangat luas, mencakup seluruh Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Melayu, dan SemenanjUng Malaya.


Ketika Kertanegara sedang gencar- gencarnya melaksanakan perluasan ke luar Jawa, Raja Kecil di Kediri Jayakatwang, mengadakai pemberontakan tahun 1292, mengakibatka para pembesar kerajaan dan Raja Kertanegara gugur. Kerajaan Singosari yang besar itu kesudahannya runtuh sesudah pemberontakan JayakatWang pada tahun 1292.


Kerajaan Majapahit


Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya dengan pertolongan Arya Wiraraja, sesudah berhasil mengalahkan Jayakatwang dengan pertolongan tentara Mongolia, dan sesudah membinasakan tentara Mongolia yang kena tipu budi amis Raden Wijaya.


Perkembangan masyarakat perkembangan kebudayaan dan perkembangan pemerintahan masa Kerajaan Majapahit terbilang sangat maju, bersamaan dengan kebesaran Kerajaan Majapahit itu sendiri.


Raja-raja yang pernah memerintah di Majapahi ialah sebagai berikut.


Raden Wijaya (1293-1309 M)


Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit yang pertama pada tahun 1293 M. Dan istrinya yang berjulukan Dara Petak, Raden Wijaya memiliki anak berjulukan Jayanegara (Kalagemet).


Sedang perkawinan Raden Wijaya dengan Gayatri, lahir (Bhre Kahuripan) dan Pujadewi Maharajasa (Bhra Daha). Keturunan dan Gayatri inilah yang melahirkan raja-raja di Majapahit.


Jayanegara (1309-1328 M)


Pada masa pemerintahaflnya banyak muncul pemberontakan. Paling berat ialah pemberontakan Kuti (1319) yang hampir meruntuhkafl Majapahit. Kuti berhasil menduduki ibukota Majapahit dan Jayanegara menyingkir ke Bedander.


Namun kesudahannya pemberontakan sanggup Dipadamkan dan Jayanegara sanggup diselamatkan oleh Pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan Gajah Mada.


Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai patih di Kahuripan pada tahun 1321, kemudian sebagai Patih di Daha pada tahun 1323. Pada tahun 1328, Jayanegara wafat lantaran dibunuh oleh Tabib Tanca. Pemberontakan inipun sanggup dipadamkan oleh Gajah Mada dan Tabib Tanca dibunuh.


Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1350 M)


Raja Jayanegara tidak memiliki keturunan. Ia digantikan oleh adik wanita dan ibu yang berbeda (Gayatri), yaitu Bhre Kahuripan yang dinobatkanmenjadi Raja Majapahit dengan gelar Jayawisnuwardhani. Ia memerintah bersama suaminya BhreSingasari, dan dibantu Patih Gajah Mada.


Dalam Kitab Negarakertagama antara lain dijelaskan bahwa pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, telah terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331, namun sanggup ditumpas oleh Gajah Mada. Kemudian Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Majapahit.


Pada tahun 1350, Tribhuwanatunggadewi menyerahkan kekuasaan Kerajaan Majapahit kepada anaknya yang berjulukan Hayam Wuruk.


Hayam Wuruk (1350-1389 M)


Hayam Wuruk diserahi tahta Kerajaan Majapahit dengan gelar Sri Rajasanegara. Saat itu ia masih berusia 16 tahun. Dalam menjalankan pemerintahan Hayam Wuruk didampingiMahapatih Gajah Mada, yang menjalankan pemerintahan sipil dan militer secara lengkap.


Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya ketika rajanya Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Saat itu wilayah kekuasaan Majapahit hampir mencakup seluruh nusantara, termasuk Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu. Pengaruhnya bahkan hingga ke Filipina Selatan, Thailand (Champa), dan Indocina.


PeninggalanHayam Wuruk yang berupa candi ialah Candi Penataran, Candi Sawentar, Candi Sumber Jati (di daerah Blitar), Candi Tikus di Trowulan, Candi Jabung didekat Kraksaan, Candi Tiagawangi dan Candi Surawana di bersahabat Pare, Kediri.


Peninggalan berupa kesusastraan yaitu Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca, berisi sejarah Kerajaan Singosari dan Majapahit hingga masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Karya sastra lain, yaitu Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.


Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran semenjak meninggalnya Mahapatih Gajah Mada pada 1364 dan meninggalnya Hayam Wuruk pada 1389. Di samping itu. juga terjadi perang saudara yang populer dengan nama Perang Paregreg.


Ranawijaya merupakan raja Majapahit terakhir yang gagal mengembalikan Majapahit pada kejayaannya. Banyak raja-raja takiukan di bawah Majapahit yang melepaskan diri.


Di samping itu, efek agama Islam mulai berkembang di pesisir utara Pulau Jawa, yang diikuti dengan berkembangnya Kerajaan Demak yang beragama Islam. Banyak pejabat Demak keturunan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.


Baca Juga :




Sumber aciknadzirah.blogspot.com