Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ 7 Film Kolosal Terbaik Nusantara Yang Sarat Akan Pelajaran Bermakna

Konten [Tampil]

Film kolosal telah merajai industri perfilman dan pertelevisian Indonesia semenjak tahun 90-an. Namun popularitasnya semakin menurun seiring berkembangnya jenis dan genre film modern. Kebanyakan kisah film kolosal terbaik diangkat dari kisah legenda maupun sejarah bangsa Indonesia.


Sepuluh tahun ke belakang para sineas tanah air kembali mengangkat tema kolosal ke layar lebar untuk menjaga kelestarian dan keragaman budaya di Nusantara. Beberapa kisah yang diangkat ada yang berasal dari sejarah dan ada pula dari kisah kisah legenda lama.


Kamu generasi 90-an niscaya tidak gila ketika film kolosal berjudul “Wiro Sableng” ditayangkan di seluruh bioskop tanah air pada Agustus 2108 lalu. Kisah ihwal satria Kapak Naga Geni 212 ini memang menajdi favorit bawah umur pada awal tahun 90-an.


Film Kolosal Terbaik


Nah, sebuah apresiasi gres nih bagi para sineas tanah air yang telah mengangkat kembali kisah sejarah maupun legenda ke layar lebar. Hal ini tentu bertujuan biar para generasi millenial tetap menghargai usaha para p0juang tanah air yang telah melegenda menghiasi Nusantara. Berikut ini 7 film kolosal terbaik versi pasberita.com yang wajib kau tonton.


1. Wiro Sableng



Wiro Sableng si pemilik Kapak Naga Geni 212 ini yakni salah satu film kolosal yang paling dirindukan di dalam negeri. Dulu di awal tahun 90-an kita selalu sanggup menyaksikan serial “Wiro Sableng” di channel televisi swasta Indonesia, RCTI.


Demi membayar kerinduan banyak pihak pada sosok Wiro, Angga Dwimas Sasongko hasilnya merilis serial Wiro Sableng ke layar lebar sempurna pada Agustus 2018 lalu. Secara keseluruhan film ini bercerita ihwal pertualangan Wiro Sableng, Bujang Gila, dan Anggini dalam menghadapi sekelompok cecunguk yang dipimpin oleh Mahesa Birawa dan Kalingundil.


Sama dengan versi serialnya, film ini juga diubahsuaikan dari novel berseri karya Bastian Tito. Nama sang novelis ini tentunya sudah tidak gila di indera pendengaran kau dong? Yup, betul ia yakni Ayah dari pemain drama papan atas Indonesia, Vino G Bastian.


Tidak diragukan lagi kemampuannya dalam bidang akting, Vino ditunjuk eksklusif oleh sang Ayah untuk memerankan huruf Wiro Sableng pada film ini. Wah kebayang dong ya bagaimana serunya film ini jikalau Wiro-nya seganteng Vino. Hhehehe!


2. Sultan Agung



Tahta, Perjuangan, dan Cinta, itulah slogan yang terdapat di film bersejarah garapan sutradara kondang Hanung Bramantyo ini. Sesuai dengan slogannya film ini mengisahkan sepak terjang Sultan Agung untuk menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang telah tercerai berai oleh politik VOC di bawah perjanjian Mataram.


Film ini dibintangi oleh Ario Bayu, Adinia Wirasti, Putri Marino, Christine Hakim, Marthino Lio, Lukman Sardi, dan sederetan pemain drama dan aktris ternama Indonesia lainnya. Sang produser Mooryati menyampaikan bahwa film ini dipersembahkan kepada bangsa dan negara untuk menghidupkan kembali semangat persatuan dan kesatuan.


Menggugah rasa nasionalisme kaum muda, film “Sultan Agung” diputar di The George Washington DC (GWU) Washington, Amerika Serikat pada bulan Desember 2018. Pemutaran film dilakukan di Harry Harding Auditorium, Elliot School of International Affairs, GWU oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia di Washington DC (Pernias DC). Sekitar 100 orang dari kalangan akademisi dan umum ikut menyaksikan pemutaran film tersebut.


3. Maipa Deapati dan Datu’ Museng



Sebuah kisah cinta yang melegenda di tanah Mangkasara (Makassar) yang tragisnya melebihi kisah cinta Romeo kepada Juliet, “Maipa Deapati dan Datu’ Museng”. Datu’ Museng (Shaheer Sheikh) yakni seorang lelaki yang cakap gagah pemberani kelahiran Makassar. Ia diminta pulang ke kampong halamannnya untuk merebut kembali tanah Makassar yang telah jatuh ke tangan VOC, Belanda.


Datu’ Museng yang telah menikahi Maipa Deapati (putri bagus dari Kerajaan Sumbawa) merasa tergugah. Ia mengajak serta istrinya pulang ke kampung halaman untuk memimpin perang. Maipa percaya jikalau perang tak akan bisa memisahkan cintanya pada Datu’ Museng.


Kedatangan Datu’ Museng di tanah Makassar hingga di indera pendengaran salah satu pimpinan VOC,Tomalompoa (Hans de Kraker). Tomalompoa yang terpikat pada kecantikan Maipa bertekad untuk menghabisi Datu’ Museng. Kala perang terjadi, pasukan Datu’ Museng berada dalam kondisi terdesak. Maipa kemudian meminta Datu’ Museng untuk membunuh dirinya, alasannya yakni Maipa Deapati tak ingin dirinya jatuh ke tangan Belanda.


4. Kartini



Tentu kisah ihwal p0juang hak dan emansipasi perempuan ini sudah bukan kisah gres bagi kita. Kamu niscaya pernah mendengarkan kisah ihwal Ibu Kartini ini ketika berguru Sejarah dulu di sekolah. Yup, film garapan sutradara kondang Hanung Bramantyo ini merupakan sebuah biografi usaha emansipasi perempuan Indonesia, “Kartini”.


Dibintangi oleh aktris papan atas Dian Sastrowardoyo, film ini berhasil menguras air mata dan mendapat banyak kebanggaan dari kalangan pendidik. Jika ditengok ke belakang kisah ihwal Ibu Kartini sudah ketiga kalinya diangkat ke layar lebar sesudah “R.A. Kartini (1984)” dan “Surat Cinta Untuk Kartini (2016)”.


Ciri khas Hanung yang memang jago dalam menciptakan sinema biografi, ia tak hanya menampilkan kisah yang sudah tercatat oleh sejarah namun juga mengungkapkan hal-hal yang selama ini jarang diketahui khalayak umum. Hanung menyelipkan sisi kontroversial dari Kartini yang sekarang menjadi sosok legendaris di Indonesia.


Sang sutradara berusaha semaksimal mungkin menampilkan dengan gamblang kegalauan dan pergumulan emosi yang dirasakan oleh Kartini. Well, sebuah apresiasi yang luar biasa untuk para p0juang tanda jasa kita. Gimana kalian sudah menonton film Kartini belum? Pastinya sudah dong ya…


5. Pendekar Tongkat Emas



Film yang dirilis tahun 2014 silam ini dipenuhi oleh sederetan pemain drama dan aktris terkenal tanah air. Beberapa diantaranya ada Christine Hakim, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, Eva Celia, dan Tara Basro. Disutradari oleh Ifa Ifansyah, film ini mengankat tema persilatan yang diisi oleh kisah pengkhianatan, kesetiaan, dan ambisi.


Cempaka (Christine Hakim) yakni seorang Pendekar Tongkat Emas yang termasyhur di dunia persilatan. Ia ingin mewariskan jurus tongkat emas kepada salah satu anak dari keempat anak didiknya, Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah). Keempat anak didiknya ini bergotong-royong yakni bawah umur dari musuh yang dulu pernah ditaklukkan Cempaka.


Setelah mempelajari watak dan perilaku dari perilaku keempat muridnya, Cempaka berniat untuk mewariskan jurus dan tongkat emasnya kepada Dara. Perpecahan terjadi, Biru dan Gerhana yang merasa lebih berhak terhadap tongkat emas tersebut merasa cemburu dan berniat untuk membunuh guru dan adiknya sendiri.


6. Soe Hok Gie



Film kolosal tidak selalu bercerita ihwal kisah perperangan, “Seo Hok Gie (2005)” merupakan sebuah film biografi garapan sutradara Riri Riza. Mengisahkan seorang tokoh utama berjulukan Seo Hok Gie, mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Indonesia yang dikenal sebagai penggerak dan pecinta alam.


Kisah ini diangkat dari sebuah buku berjudul “Catatan Seorang Demonstran (1942-1969)” ihwal tokoh pergerakan mahasiswa yang mempunyai pedoman yang berbeda pada situasi politik kala itu. Gie yakni intelektual muda yang kritis terhadap sistem pemerintahan dan menuangkan pemikirannya melalui sebuah tulisan.


Tulisannya yang menuai kontroversi ditentang oleh banyak pihak. Hingga sekarang maut Gie dalam usia yang sangat muda masih menjadi misteri.


7. Gending Sriwijaya



“Gending Sriwijaya (2013)” yakni kisah ihwal kudeta pada kala ke-16. Satu lagi film kolosal yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Hanung bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam menggarap film ini. Pasalnya film yang terinspirasi dari lagu dan tarian tradisional kebudayaan Palembang ini akan mengangkat kisah nusantara sesudah keruntuhan kerajaan Sriwijaya di Palembang. Kamu sudah nonton filmnya belum?


Jika kau sudah menamatkan sekuel “Captain America” maupun “Transfoermer”, jangan lupa juga untuk menamatakan ketujuh film kolosal terbaik dalam negeri di atas. Jika bukan kita para generasi muda, siapa lagi yang akan mengasihi dan melestarikan ragam budaya di Nusantara tercinta ini.



Sumber aciknadzirah.blogspot.com