Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Laba Bersedekah Shaleh

Konten [Tampil]

Salah satu keharusan terpenting yang harus diwujudkan oleh setiap mu’min ialah bersedekah shaleh. Karena itu di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, kita dapati begitu banyak perintah untuk bersedekah shaleh bagi orang-orang yang telah mengaku beriman. Bentuk amal shaleh itu sendiri amat banyak, setiap perbuatan seorang muslim semenjak bangkit tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari intinya sanggup dinilai sebagai amal yang shaleh manakala memenuhi tiga kriteria. Pertama, niat yang nrimo alasannya ialah Allah Swt. Kedua, benar dalam melaksanakannya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketiga, tujuannya ialah untuk mencari ridha Allah Swt.

Di dalam Al-Qur’an, ada banyak laba yang akan diperoleh bagi setiap mu’min yang bersedekah shaleh, baik dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Dalam goresan pena yang terbatas ini, akan kita bahas beberapa ayat saja.
1. Memiliki Rasa Kasih dan Sayang.
Kasih sayang merupakan salah satu sifat penting yang harus dimiliki manusia. Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama membuat insan tidak hanya mementingkan dirinya sendiri atau tidak bersifat individual. Rasa kasih sayang yang dimiliki seorang mu’min membuat ia siap membantu mengatasi dilema orang lain. Rasa kasih dan sayang telah membuat Sahabat Abu Bakar Ash Shiddik membantu Bilal bin Rabah dengan membebaskannya dari perbudakan meski dengan pengorbanan uang dalam jumlah yang banyak. Rasa kasih sayang juga telah membuat Sahabat Utsman bin Affan mengorbankan hartanya untuk membeli kebutuhan pangan dalam jumlah yang banyak untuk membantu masyarakat yang dilanda kelaparan. Begitulah para sobat lain dan orang-orang yang mempunyai iktikad dengan amal shaleh yang banyak.
Rasa kasih dan sayang juga membuat seorang mu’min merasa mempunyai tanggung jawab perbaikan terhadap mu’min lainnya, kesannya wujud dari perilaku ini ialah adanya rasa tanggung jawab untuk menunaikan kiprah da’wah guna memperbaiki perilaku dan kepribadian seorang muslim.
Dalil yang menyebutkan anugerah Allah terhadap orang yang bermal shaleh berupa rasa kasih sayang disebutkan dalam firman Allah yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan bersedekah shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (QS 19:96).
2. Kehidupan Yang Baik.
Kehidupan yang baik merupakan dambaan bagi setiap orang. Hidup yang baik ialah kehidupan yang dijalani tanpa mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya sehingga kehidupannya menjadi berkah, bermanfaat besar bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Kata thayyibah (baik) juga dipakai Al-Qur’an untuk menyebut kalimat tauhid yang diumpamakan menyerupai pohon yang baik. Pohon yang thayyibah ialah pohon yang akarnya teguh menancap ke dalam bumi dan cabangnya menjulang ke langit sehingga menghasilkan buah yang banyak yang tentu saja bermanfaat besar bagi manusia, juga bibit yang banyak bagi pertumbuhan pohon yang gres lagi, Allah berfirman yang artinya: Tidakkah kau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik menyerupai pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memperlihatkan buahnya pada setiap demam isu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk insan biar mereka selalu ingat (QS 14:24-25).
Anugerah kehidupan yang baik diberikan Allah Swt kepada orang-orang yang bersedekah shaleh dengan landasan iktikad kepada-Nya. Allah berfirman yang artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik pria maupun wanita dalam keadaan beriman, maka gotong royong akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan gotong royong akan Kami beri jawaban kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS 16:97).
Dengan demikian, kehidupan yang baik bagi seorang mu’min ialah kehidupan yang berdaya guna tinggi, sehingga keuntungannya sanggup dirasakan oleh orang lain. Bagi seorang mu’min, adanya menggenapkan dan tidak adanya mengganjilkan, bukan ada atau tidak ada sama saja. Karena itu, Rasulullah Saw dalam satu haditsnya menyatakan: Sebaik-baik insan ialah yang paling bermanfaat untuk orang lain (HR. Qudha’i dari Jabir ra)
Agar kehidupan insan sanggup berjalan dengan baik dan berdaya guna tinggi, maka Allah Swt menurunkan sejumlah peraturan, meskipun peraturan itu ada kalanya kurang menyenangkan insan sehingga ada insan yang kurang menyenangi peraturan tersebut, tapi justeru hal itu untuk kepentingan insan juga. Sama halnya dengan peraturan kemudian lintas di perjalanan, kita kurang senang dengan adanya lampu kemudian lintas, tapi justeru hal itu untuk kebaikan insan dalam perjalanannya. Betapa kacau jalan raya dengan kendaraan yang padat manakala dengan banyak persimpangannya itu tidak memakai lampu kemudian lintas. Peraturan itu diturunkan oleh Allah Swt, alasannya ialah Dialah yang lebih tahu ihwal manusia; sehingga Dia lebih tahu ihwal peraturan apa yang lebih sempurna untuk manusia, sekaligus tidak mempunyai kepentingan apa-apa terhadap mereka. Karenanya agama merupakan peraturan Allah yang mengantarkan insan pada kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat.
3. Pahala Yang Besar.
Di dalam ayat di atas (QS 16:97), orang yang bersedekah shaleh dengan landasan iktikad kepada Allah Swt juga akan diberi jawaban pahala yang lebih besar dari amal yang mereka lakukan sendiri. Ini merupakan keistimewaan tersendiri bagi mu’min yang bersedekah shaleh. Allah Swt memang akan melipatgandakan jawaban pahala dari amal shaleh seseorang. Di dalam ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya: Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) (QS 6:160).
Bahkan adakalanya amal shaleh seorang mu’min itu akan terus mengalir pahalanya meskipun ia sudah meninggal dunia, inilah yang sering disebut dengan amal jariyah, menyerupai waqaf, ilmu yang diajarkan kepada orang lain sehingga orang itu mengamalkannya untuk kebaikan, meninggalkan anak yang shaleh sehingga anak itu bersedekah dan berdo’a, dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya Kami telah membuat insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke daerah yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (QS 95:3-6).
Dengan imbalan pahala yang besar itu, seorang mu’min akan terus memperbanyak amal shalehnya, alasannya ialah memang semakin banyak pahala amal shaleh, akan semakin senang dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Imbalan pahala yang besar tidak membuat seorang mu’min tidak bernafsu dalam bersedekah shaleh alasannya ialah sudah merasa mempunyai pahala yang banyak. Bagi mu’min yang sejati, semakin banyak pahala, semakin baik, alasannya ialah hal itu menjadi bekal baginya untuk sanggup berjumpa dengan Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya (QS 18:110).
Dengan demikian, semakin terperinci bagi kita bahwa sebagai mu’min, keimanan kita itu memang harus kita buktikan dengan amal yang shaleh, apalagi banyak keutamaannya dalam kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Insya Allah keutamaan lain dari amal yang shaleh di dalam Al-Qur’an akan kita uraian kembali pada goresan pena berikutnya.
***

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Sumber http://mtsmafaljpr.blogspot.com