√ Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi
KABARTANI.COM – Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi. Kebutuhan air tumbuhan yaitu kebutuhan air yang dipakai selama ekspresi dominan tanam, dimulai dari proses penyiapan lahan hingga pasca panen.
Faktor-faktor yang memilih besarnya kebutuhan air irigasi untuk tumbuhan yaitu sebagai berikut :
- Jenis tanaman
Dapat dijelaskan bahwa jenis tumbuhan sangat memilih jumlah kebutuhan airnya, contohnya tumbuhan padi, membutuhkan lebih banyak air dibandingkan tumbuhan lainnya ibarat palawija.
- Jenis Tanah
Jenis Tanah sangat mensugesti pemakaian air bagi flora , misal tanah berpasir passti berbeda dengan jenis tanah lempung atau lumpur.
- Kehilangan Air
Maksud dari kehilangan air disini yaitu kanal kadang kadang bisa menjadi besar dari asumsi dari perhitungan sebab adanya kebocoran bukan hanya penguapan.
- Pemakaian Air
Adapun cara pemakaian sangat mensugesti kebutuhan air,sehingga dalam hal cara pemakaian air, harus dipilih biar cara yang dilakukan hemat.
Cara Menghitung Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi.
Analisis kebutuhan air untuk tanaman padi di sawah dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain ibarat berikut: pengolahan lahan, penggunaan konsumtif, perkolasi, penggantian lapisan air, dan sumbangan. hujan efektif.
Kebutuhan air total di sawah merupakan jumlah faktor 1 sampai dengan 4, sedangkan kebutuhan netto air di sawah merupakan kebutuhan total dikurangi faktor hujan efektif. Kebutuhan air di sawah dapat dinyatakan dalam satuan mm/hari ataupun lt/dt.
- Kebutuhan air untuk pengolahan lahan padi.
Periode pengolahan lahan membutuhkan air yang paling besar kalau dibandingkan tahap pertumbuhan. Kebutuhan air untuk pengolahan lahan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karakteristika tanah, waktu pengolahan, tersedianya tenaga dan ternak, serta mekanisasi pertanian. Kebutuhan air untuk penyiapan da pat ditentukan berdasarkan kedalaman tanah dan porositas tanah di sawah, seperti diusulkan pada Kriteria Perencanaan Irigasi 1986 sebagai berikut :
dengan :
- PWR = kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm).
- Sa = derajad kejenuhan tanah sehabis penyiapan laha n dimulai (%).
- Sb = derajad kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan dimulai (%).
- N = porositas ta nah, dalam % rata-rata per kedalaman tanah.
- d = asumsi kedalaman tanah sehabis pekerjaan penyiapan lahan (mm).
- Pd = kedalaman gena ngan sehabis pekerjaan penyiapan lahan (mm).
- F 1 = kehilangan air di sawah selama 1 hari (mm).
Kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat ditentukan secara empiris sebesar 250 mm, mencakup kebutuhan untuk penyiapan lahan dan untuk lapisan air awal setelah transplantasi selesai. (Kriteria Perencanaan Irigasi KP 01). Untuk lahan yang sudah usang tidak ditanami (bero), kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat ditentukan sebesar 300 mm. Kebutuhan air untuk persemaian termasuk dalam ke butuhan air untuk penyiapan lahan.
Analisis kebutuhan air selama pengolahan lahan dapat memakai metode sepe rti diusulkan oleh Van de Goor dan Ziljstra (1968) sebagai berikut
Dengan :
- IR = kebutuhan air untuk pengolahan lahan (mm/hari).
- M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akhir evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan (mm/hari).
- Eo = Evaporasi potensial (mm/hari).
- P = perkolasi (mm/hari).
- k = konstanta.
- T = jangka waktu pengolahan (hari).
- S = kebutuhan air untuk penjenuhan (mm).
- e = bilangan eksponen: 2,7182
- Menghitung kebutuhan air untuk pengolahan lahan.
Jadi kebutuhan air selama pengolahan lahan yaitu sebesar 11,69 mm/hari.
- Penggunaan konsumtif.
Penggunaan air untuk kebutuhan tanaman (consumtive use ) dapat didekati dengan menghitung evapotranspirasi tanaman, yang besarnya dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur tanaman dan faktor klimatologi. Nilai evapotranspirasi merupakan jumlah dari evaporasi dan transpirasi. Yang dimaksud dengan evaporasi adalah proses perubahan molekul air di permukaan menjadi molekul air di atmosfir. Sedangkan transpirasi adalah proses fisiologis alamiah pada tanarnan, dimana air yang dihisap oleh akar diteruskan lewat badan tumbuhan dan diuapkan kembali melalui pucuk daun. Nilai evapotranspirasi dapat diperoleh dengan pengukuran di lapangan atau dengan rumus-rumus empiris. Untuk keperluan perhitungan kebutuha n air irigasi dibutuhkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto) yaitu evapotranspirasi yang terjadi apabila tersedia cukup air. Kebutuhan air untuk tanaman adalah nilai Eto dikalikan dengan suatu koefisien tanaman. ET = kc x Eto dimana :
- ET = Evapotranpirasi tumbuhan (mm/hari).
- ETo = Evaporasi tetapan/tanarnan pola (mm/hari).
- kc = Koefisien tanaman.
Kebutuhan air konsumtif ini dipengaruhi oleh jenis dan usia tumbuhan (tingkat pertumbuhan tanaman). Pada ketika tana man mulai tumbuh, nilai kebutuhan air konsumtif meningkat sesuai pertumbuhannya dan mencapai maksimum pada ketika pertumbuhan vegetasi maksimum. Setelah mencapai maksimum dan berlangsung beberapa saat menurut jenis tanaman, nilai kebutuhan air konsumtif akan menurun sejalan dengan pematangan biji. Pengaruh watak tumbuhan terhadap kebutuhan tersebut dengan faktor tumbuhan (kc). Nilai koefisien pertumbuhan tumbuhan ini tergantung jenis tumbuhan yang ditanam. Untuk tumbuhan jenis yang sama juga berbeda berdasarkan varietasnya. Sebagai contoh padi dengan varietas unggul masa tumbuhnya lebih pendek dari padi varietas biasa.
Laju perkolasi sangat tergantung pada sifat-sifat tanah. Data-data mengenai perkolasi akan diperoleh dari penelitian kemampuan tanah maka dibutuhkan penyelidikan kelulusan tanah. Pada tanah lempung berat dengan karakteristik pengolahan ( puddling ) yang baik, laju perkolasi dapat mencapai 1-3 mm/hari. Pada tanah-tanah yang lebih ringan, laju perkolasi bisa lebih tinggi. Untuk menentukan Iaju perkolasi, perlu diperhitungkan tinggi muka air tanahnya. Sedangkan rembesan terjadi akhir meresapnya air melalui tanggul sawah.
- Penggantian lapisan air.
Setelah pemupukan perlu dijadwalkan dan mengganti lapisan air berdasarkan kebutuhan. Penggantian diperkirakan sebanyak 2 kali masing-masing 50 mm satu bulan dan dua bulan sehabis transplantasi (atau 3,3 mm/hari selama 1/2 bulan).
- Hujan efektif.
Untuk memilih besar sumbangan hujan terhadap kebutuhan air oleh tanaman, terdapat beberapa cara, diantaranya secara empirik maupun dan simulasi. Kriteria Perencanaan Irigasi mengusulkan hitungan hujan efektif berdasarkan data pengukuran curah hujan di setasiun terdekat, dengan panjang pengamatan selama 10 tahun.
- Analisis kebutuhan air untuk padi di lahan.
Apabila telah tersedia data
- evaporasi rerata. setengah bulanan.
- data jenis tanah.
- jenis (varitas) padi dan.
- hasil analisis curah hujan efektif,
maka analisis kebutuhan air untuk tumbuhan padi di sawah dapat dilakukan. Dalam modul ini disertakan aktivitas komputer sederhana untuk menganalisis kebutuhan air untuk tumbuhan padi.
Sumber https://kabartani.com