Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Pengertian, Hakikat Dan Cara Bersyukur Kepada Allah Swt

Konten [Tampil]





style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="2738828734"
data-ad-format="link"
data-full-width-responsive="true">



Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur – Dalam kehidupan kita sehari-hari, ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan. Menurut beberapa orang, kalau hidup itu indah lantaran adanya perbedaan tersebut.


Coba kita bayangkan andai saja seseorang selalu mencicipi kesenangan terus atau sebaliknya selalu mencicipi kesusahan terus, tentu bukan sesuatu yang baik kan?


Ketika kita mencicipi kesenangan, maka kita diperlukan untuk selalu ingat dimana kita dulu pernah mencicipi susah.


Sebaliknya, ketika kita mencicipi kesusahan maka ingatlah bahwa suatu ketika akan ada kesenangan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:


Karena bergotong-royong setelah kesulitan itu ada kemudahan, bergotong-royong setelah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah : 5-6)






style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="7622477994">




Maka ketika kita dalam masa-masa sulit, selalu ingatlah kepada Allah SWT.


Allah SWT berfirman:


Karena itu, ingatlah kau kepada-Ku pasti Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kau mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah : 152)


Nikmat-nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada insan merupakan proteksi yang terus menerus dan majemuk bentuknya, baik lahir maupun batin.


Namun, insan saja yang ndeso dalam memelihara nikmat, sehingga ia merasa seperti belum pernah diberikan sesuatu apapun oleh Allah SWT.






style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="3640846867">




Mengapa orang terkadang merasa tidak mendapatkan sesuatu apapun dari Allah? Jawabannya yaitu lantaran ia tidak pernah bersyukur atas apa-apa yang ada padanya.


Pengertian Bersyukur


 ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan √ Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur Kepada Allah SWT
www.selamatmorningindonesia.com

Bersyukur yaitu suatu perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih atas segala limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan.


Maka selalu bersyukur jikalau kita diberi suatu nikmat Allah SWT, tidak memandang nikmat itu banyak atau sedikit. Karena orang yang selalu bersyukur pasti Allah SWT akan menambah kenikmatan tersebut.


Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ibrahim : 7 yang artinya: “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku kata Allah, pasti saya akan menambah nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmat Ku kata Allah, maka azab ku sangatlah pedih.”


Hakikat Bersyukur


 ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan √ Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur Kepada Allah SWT





style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="6135148267"
data-ad-format="link"
data-full-width-responsive="true">




www.pinterest.com

Rasa syukur yang hakiki di bangkit di atas lima pondasi utama dan barang siapa yang sanggup merealisasikannya, maka ia yaitu seseorang yang bersyukur dengan benar. Lima pondasi tersebut adalah:



  • Merendahnya orang yang bersyukur di hadapan yang ia syukuri (Allah SWT)

  • Kecintaan terhadap Sang Pemberi nikmat (Allah SWT)

  • Mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan

  • Senantiasa memuji-Nya atas segala nikmat tersebut

  • Tidak memakai nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT


Dengan demikian syukur merupakan bentuk legalisasi atas nikmat Allah dengan penuh perilaku kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa menyayangi Nya, anggota tubuh taat kepada-Nya serta mulut tak henti-henti menyebut nama-Nya.


Kenalilah Nikmat Allah


 ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan √ Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur Kepada Allah SWT
www.kusmono.com

Dalam bersyukur ada sesuatu yang penting yaitu mengenali nikmat Allah. Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan di antara rukun terbesar dalam bersyukur.


Karena tidak mungkin seseorang sanggup bersyukur, jikalau ia merasa tidak mendapatkan nikmat. Maka mengenal nikmat merupakan jalan untuk mengenal Sang Pemberi Nikmat, dan kalau seseorang tahu siapa yang memperlihatkan nikmat, maka ia akan mencintainya, sehingga cinta itu akan melahirkan kesyukuran dan terima kasih.


Nikmat Allah tidaklah terbatas pada kuliner dan minuman belaka, namun seluruh gerak dan desah nafas kita yaitu nikmat yang tak terhingga yang tidak kita ketahui nilainya.


Abu Darda’ mengatakan, “Barang siapa yang tidak mengetahui nikmat Allah selain makan dan minumnya, maka berarti pengetahuannya picik dan azabnya telah menimpa.”





style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="9136716124">




Maka dikatakan, bahwa syukur yang bersifat umum yaitu syukur terhadap nikmat makanan, minuman, pakaian, perumahan, kesehatan dan kekuatan. Dan syukur yang bersifat khusus yaitu syukur atas tauhid, keimanan dan kekuatan hati.


Pokok-pokok Nikmat


 ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan √ Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur Kepada Allah SWT
palembang.tribunnews.com

Nikmat Allah amatlah banyak, tidak terhingga dan tak berbilang, namun ada di antaranya yang sangat besar dan pokok yang perlu untuk kita ketahui, yaitu:




  • Nikmat Islam dan Iman




Demi Allah, inilah nikmat yang terbesar, di mana Allah menjadikan kita sebagai muslim yang bertauhid, bukan Yahudi yang dimurkai dan Nashara yang tersesat, yang menyampaikan Allah memiliki anak, yakni Uzair Ibnullah dan Isa Ibnullah, Maha Suci Allah dari sifat yang tak layak ini.


Ibnu Uyainah (Sufyan) berkata, “Tidak ada satu nikmat pun dari Allah untuk hamba-Nya yang lebih utama, daripada diajarkannya kalimat la ilaha illAllah.”




  • Penangguhan dan Tutup Dosa




Ini juga merupakan nikmat yang sangat besar, lantaran jikalau setiap kita melaksanakan dosa kemudian Allah pribadi membalasnya, maka tentu seluruh alam ini telah binasa.


Akan tetapi Allah memperlihatkan kesempatan dan penangguhan kepada kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah SWT berfirman,


Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (QS Luqman : 20)


Berkata Muqatil, “Adapun (nikmat) yang lahir (nampak) yaitu Islam, sedangkan yang batin yaitu tutup dari Allah atas kemaksiatan kalian.”




  • Nikmat Peringatan




Peringatan yaitu termasuk nikmat yang besar, dan ini merupakan salah satu ketelitian Allah supaya hamba-Nya tidak terlena.


Tanpa kita duga terkadang ada seseorang yang tiba meminta makan atau sesuatu kepada kita, yang dengan perantaraan orang yang sedang kesusahan tersebut akan menciptakan kita ingat terhadap nikmat yang diberikan Allah.




  • Terbukanya Pintu Taubat




Merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah yaitu terbukanya pintu taubat, sebanyak apa pun dosa dan kemaksiatan seorang hamba.


Selagi nafas belum hingga tenggorokan dan selagi matahari belum terbit dari barat, maka pintu taubat selalu terbentang untuk dimasuki oleh siapa saja.




  • Menjadi Orang Terpilih




Nikmat ini hanya sanggup dirasakan oleh orang yang beristiqamah, wara’, dan selalu menghadapkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala serta tidak menoleh kepada yang lain.


Maka Allah menguatkan hatinya ketika fitnah tersebar di sana-sini, meneguhkannya di atas ketaatan ketika orang berpaling darinya.


Allah hiasi hatinya dengan akidah dan dijadikan cinta kepadanya, kemudian ia benci terhadap kefasikan dan kemaksiatan. Ini termasuk nikmat paling besar yang harus disyukuri dengan sepenuhnya dan dengan sanjungan sebanyak banyaknya.






style="display:inline-block;width:300px;height:600px"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="4295452985">






  • Kesehatan, Kesejahteraan dan Keselamatan Anggota Badan




Kesehatan, sebagaimana dikata-kan Abu Darda’ Radhiallaahu anhu yaitu mirip raja. Sementara itu Salman al Farisi mengisahkan wacana seorang yang diberi harta melimpah kemudian kenikmatan tersebut dicabut, sehingga ia jatuh miskin, namun orang tersebut justru memuji Allah dan menyanjung-Nya.


Maka ada orang kaya lain yang bertanya, “Aku tak tahu, atas apa engkau memuji Allah? Dia menjawab, “Aku memuji-Nya atas sesuatu yang andaikan saya diberi seluruh yang diberikan kepada manusia, maka saya tidak mau menukarnya. Si kaya bertanya, “Apa itu? Dia menjawab, “Apakah engkau tidak memperhatikan penglihatanmu, lisanmu, kedua tangan dan kakimu (kesehatannya)?




  • Nikmat Harta (Makan, Minum dan Pakaian)




Bakar al Muzani berkata, “Demi Allah saya tidak tahu, mana di antara dua nikmat yang lebih utama atasku dan kalian, apakah nikmat ketika masuk (menelan) ataukah ketika keluar dari kita (membuang)? Berkata Al-Hasan, “Itu yaitu kenikmatan makan.”


Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air bening, kemudian masuk perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluar lagi dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur.”


Cara bersyukur


 ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan √ Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur Kepada Allah SWT
lifestyle.sarangberita.com

Ada banyak cara yang sanggup dilakukan insan untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini sanggup dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:


1. Syukur dengan Hati


Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata lantaran anugerah dan kemurahan Allah SWT. Allah SWT berfirman:


Segala nikmat yang ada pada kau (berasal) dari Allah.” (QS. An-Nahl : 53)


Syukur dengan hati sanggup mengantar seseorang untuk mendapatkan anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.


Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.


2. Syukur dengan Lisan


Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, impulsif ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah) Wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).


Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah SWT. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah mediator yang Allah SWT kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.


Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak mendapatkan kebanggaan yaitu Allah SWT, bahkan seluruh kebanggaan harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.


Oleh lantaran itu, kita harus mengembalikan segala kebanggaan kepada Allah SWT. Pada ketika kita memuji seseorang lantaran kebaikannya, hakikat kebanggaan tersebut harus ditujukan kepada Allah SWT. Sebab, Allah yaitu pemilik segala kebaikan.


3. Syukur dengan Perbuatan


Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya.


Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.


Rasulullah saw menjelaskan bahwa Allah sangat bahagia melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda:


Sesungguhnya Allah bahagia melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya.” [HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr]


Maksud dari hadits di atas yaitu bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya.


Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang bakir menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi pesan tersirat dan sebagainya.


Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya. Allah SWT berfirman:


Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”(QS. Adh-Dhuha : 11)


4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan


Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan.


Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita yaitu menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar supaya terhindar dari sakit.


Demikian pula dengan halnya dengan nikmat akidah dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman.


Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk akidah dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa.


Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak akidah mirip munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.


 ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan √ Pengertian, Hakikat dan Cara Bersyukur Kepada Allah SWT
www.hatikupercaya.com

Teks Hadits


وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ – وَاللَّفْظُ لَهُ – حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ[15]


Terjemah Hadits


Rasulullah SAW bersabda: “lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kau dan janganlah kau melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.” (Muutafaq ‘Alaih)


Penjelasan Hadits


Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin supaya memandang orang memandang orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya maupun yang lain-lainnya.


Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib mereka.


Sebaliknya Rasulullah SAW melarang kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka alasannya yaitu sanggup menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan bukan tidak mungkin sanggup menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul persangkaan yang jelek kepada Allah SWT bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan dirinya atau pilih kasih dalam proteksi nikmat.




style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="6135148267"
data-ad-format="link"
data-full-width-responsive="true">




Kaum muslimin dibenarkan melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam duduk perkara ketaatan dalam menjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama.



style="display:block"
data-ad-format="autorelaxed"
data-ad-client="ca-pub-7354097963829271"
data-ad-slot="6399230277">





Sumber aciknadzirah.blogspot.com