√ Mengundang Decak Kagum, 5 Film Berbahasa Jawa Ini Patut Diapresiasi
Film-film karya anak bangsa sekarang semakin hari semakin berkembang. Tak sedikit dari film-film sineas tanah air berhasil diputar di kancah internasional. Tak hanya itu film-film tersebut juga berhasil meraih penghargaan di banyak sekali ekspo film internasional. Mengusung tema film berbahasa jawa, “Yowis Ben” yakni film yang memakai bahasa Jawa Timuran dan sedang terkenal di kalangan dewasa ketika ini.
Bahkan film ini mendapat kebanggaan dari Presiden Jokowi sebab mengangkat tema bahasa daerah. Sebagai bangsa dengan bermacam-macam suku, budaya, dan bahasa sudah sepatutnya kita besar hati dengan mendukung sinema perfilman tanah air. Apalagi tema yang diusung ikut melestarikan budaya di seluruh pelosok nusantara.
Film dengan latar budaya dan bahasa dari tempat tertentu di Indonesia sekarang semakin banyak dikembangkan. Seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang mengeksplor budaya minang, “Susah Sinyal” yang berlatar tempat Sumba, serta masih banyak film lainnya.
Film Berbahasa Jawa
Kali ini kita akan fokus membahas film dari tanah Jawa khususnya film berbahasa Jawa. Banyak film berbahasa Jawa yang berjaya di ekspo internasional bahkan memperoleh penghargaan. Berikut pasberita,com kupas film berbahasa Jawa terbaik yang patut diacungi jempol.
1. Turah (2016)
Film karya sineas muda Wicaksono Wisnu Legowo ini menjadi perwakilan Indonesia melenggang ke ajang Oscar 2018. “Turah” yakni sebuah dongeng wacana kehidupan sehari-hari dengan latar kampung nelayan di pesisir utara Kota Tegal, Jawa Tengah. Wisnu ingin mengangkat fakta soal kesenjangan sosisal yang sering terjadi di banyak sekali pelososk Indonesia, khususnya di Kampung Tirang, Tegal kampung halamannya.
Sebuah proyek ideologis yang diangkat ke layar lebar bukan untuk tujuan komersil semata. Film ini memaparkan kehidupan warga di kampung Tirang, sebuah kampung yang bersanding erat dengan kota Tegal. Meski berdekatan dengan kota, namun kehidupan warga Timang nyaris timpang, mereka miskin dan tertinggal. Bahkan warga sama sekali tak tersentuh listrik, rumah reot, dan kesulitan air bersi, jauh dari hidup yang layak pada umumunya,
Berkat kerja keras Wisnu Legowo, “Turah” berhasil memenangkan penghargaan Netpac Award dan ditayangkan di 9th Bengaluru International Film Festival 2017, India.
2. Ziarah (2016)
“Ziarah” yakni satu-satunya film dalam negeri yang meraih penghargaan di ASEAN International Film Festival and Awards (AFIFA) 2017 tanpa melibatkan para bintang film dan aktris papan atas dalam pemeran tokoh pemainnya. Film garapan sutradara BW Purbanegara ini justru menggaet warga lokal berjulukan Ponco Sutiyem untuk memerankan huruf tokoh utama pada film ini yaitu Mbah Sri.
Mbah Sri yakni nenek renta berumur 90 tahun yang melaksanakan perjalanan untuk mencari kuburan suaminya, Mbah Pawiro. Selama ini Mbah Sri nyekar ke kuburan tanpa nama tertulis di kerikil nisannya. Namun, ketika Mbah Redjo memberitahu bahwa makan Mbah Prawiro bukan di situ Mbah Sri nekat untuk melaksanakan perjalanan mencari kijing^ dari suaminya yang pamit membela negara.
Dengan berbekal petunjuk bertanya sana sini, Mbah Sri hasilnya menemukan makam sang suami bertuliskan Ki Pawiro Sahid (1985). Sebuah ending yang tak diduga disuguhkan pada simpulan dongeng ini. Di sebelah makam Mbah Pawiro ada makam bertuliskan Nyi Pawiro Sahid, yang terang itu bukan makam Mbah Sri. Sebuah dongeng yang penuh makna akan hakikat kesetiaan akan kau dapatkan pada film ini.
Sepanjang pemutaran film, obrolan memakai bahasa Jawa kromo alias Jawa halus. Diselingi candaan-candaan khas Jawa serta latar film yang khas Jawa menyerupai rumah joglo banyak dijumpai pada film ini. Yuk, ikut dukung perkembangan film karya anak bangsa!
3. Yowis Ben (2018)
Film komedi yang memakai bahasa Jawa Timuran ini mendapat kebanggaan Istimewa dari orang nomor satu Indonesia, Presiden Jokowi. Film karya youtuber Bayu Skak dan Fajar Nugros ini memperlihatkan kisah percintaan ringan di kalangan dewasa Sekolah Menengan Atas yang dipenuhi intrik kekonyolan. Film ini merupakan film perdana Bayu Skak menjadi seoang co-director dalam proyek penggarapan film.
Sebagai film perdana, film ini meraih prestasi yang luar biasa dengan meraih penghargaan sebagai Film Bioskop Klasifikasi Usia 13+ di Anugerah Lembaga Sensor Film.
“Yowis Ben” merupakan nama grup musik belum dewasa Sekolah Menengan Atas besutan Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, dan Tutus Thomson. Band ini dibuat atas inisiatif Bayu semoga sanggup terlihat kece di mata Susan (Cut Meyriska), gadis pujaan hati yang telah usang diidam-idamkannya. Harapan Bayu membentuk band tersebut semoga popularitasnya semakin meningkat sampai Susan jatuh hati padanya.
Namun, langkah Bayu dan kawan-kawan dalam menggeluti dunia musik tentu tidaklah mudah. Berbagai rintangan dan cibiran dari orang-orang sekitar sering mereka hadapi. Akan tetapi hal tersebut tak mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya, sampai hasilnya mereka berhasil dikenal publik melalui saluran Youtube yang mereka buat. Lalu apa kabar dengan dongeng cinta Bayu kepada Susan? Apakah hasilnya ia menyatakan perasaaannya, yok ditonton sek yok film e!
4. Siti (2014)
Mengangkat kisah seorang perempuan penjual peyek jingking di Pantai Parangtritis, Yogyakarta berjulukan Siti. Sosok Siti diperankan oleh Sekar Sri, perempuan orisinil Jogja yang hidup dikelilingi kemiskinan, jeratan hutang dan suami yang lumpuh. Ia dihadang oleh dua pilihan hidup, pasrah pada kehendak sang takdir atau pergi meninggalkan jeratan kemiskinannya.
Yang menciptakan film ini istimewa yakni tak hanya dialognya yang full memakai bahasa Jawa, namun teknik pengambilan gambar memakai latar hitam-putih menciptakan film “Siti” semakin istimewa. “Siti” tidak hanya berjaya di dalam negeri sendiri namun juga meraih popularitas di dunia perfilman internasional.
Film ini telah memenangkan piala New Asia Talent Competion untuk sinematografi dan naskah film terbaik pada ajang Festival Film International Shanghai 2015. Tidak hanya itu film yang dipenuhi akan makna kejujuran ini juga memenangkan kategori Best Performance untuk Sekar di ajang Singapore Film Festival ke-25.
5. Kartini (2017)
Tentu dongeng wacana p0juang hak dan emansipasi perempuan ini sudah bukan dongeng gres bagi kita. Kamu niscaya pernah mendengarkan dongeng wacana Ibu Kartini ketika mencar ilmu Sejarah dulu di sekolah. Yup, film garapan sutradara kondang Hanung Bramantyo ini merupakan sebuah biografi usaha emansipasi perempuan Indonesia, “Kartini”.
Dibintangi oleh aktris papan atas Dian Sastrowardoyo, film ini berhasil menguras air mata dan mendapat banyak kebanggaan dari kalangan pendidik. Jika ditengok ke belakang kisah wacana Ibu Kartini sudah ketiga kalinya diangkat ke layar lebar sesudah R.A. Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016).
Ciri khas Hanung yang memang mahir dalam menciptakan sinema biografi, ia tak hanya menampilkan kisah yang sudah tercatat oleh sejarah namun juga mengungkap hal-hal yang selama ini jarang diketahui khalayak umum. Hanung menyelipkan sisi kontroversial dari Kartini yang sekarang menjadi sosok legendaris di Indonesia. Sang sutradara berusaha semaksimal mungkin menampilkan dengan gamblang kegalauan dan pergumulan emosi yang dirasakan oleh Kartini.
So, dari kelima film di atas harusnya sudah kau kupas habis dong ya? Sebagai generasi yang cinta tanah air kita harus turut mendukung perkembangan industri perfilman Indonesia, khususnya film dengan tema yang mengangkat budaya tempat tertentu. Sayonara!
Sumber aciknadzirah.blogspot.com