√ Sejarah Kerajaan Kutai : Pendiri Dan Peninggalannya Lengkap
Sejarah Kerajaan Kutai : Pendiri Dan Peninggalannya Lengkap
Daftar Isi :
- 1 Sejarah Kerajaan Kutai : Pendiri Dan Peninggalannya Lengkap
Kerajaan Kutai – Sebagai warga negara Indonesia yang baik, tentu kita harus menghargai sejarah dan para pendekar terdahulu. Kalimat tersebut harus menjadi pendorong untuk generasi masa sekarang biar mereka mengetahui sejarah bangsa Indonesia. Agar mereka tak lengah dan rajin belajar, dengan cara selalu menawarkan yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indonesia yakni bangsa yang besar, yang kaya akan budayanya. Indonesia mempunyai ribuan dongeng sejarah yang harus menjadi pola bagi kita semua. Salah satunya yakni pergerakan awal di masa Kerajaan Kutai, dan usaha lainnya yang dilakukan oleh para pendekar hingga Indonesia merdeka. Perjuangan itulah yang membawa kita ke kemerdekaan yang hari ini kita nikmati.
Sayangnya aneka macam generasi muda yang malas berguru sejarah, atau usaha pendekar terdahulu. Padahal dengan mengetahui sejarah usaha pahlawan, maka kita menjadi tahu besarnya pengorbanan para pendekar di masa itu. Dengan begitu kita pun tidak akan sempat bermalas-malasan dalam hal apapun.
Mari kita bahas lebih lengkap lagi mengenai Kerajaan Kutai di Indonesia, yang letaknya berada di Kalimantan Timur. Kerajaan ini menjadi kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Yang mempunyai aneka macam peninggalan dan budaya. Mari simak klarifikasi lengkapnya di bawah ini.
Sejarah Munculnya Kerajaan Kutai Di Indonesia
Anda niscaya pernah berguru pelajaran sejarah mengenai beberapa kerajaan yang ada di Indonesia di zaman dahulu. Kerajaan Kutai yakni kerajaan Hindu yang paling renta di Indonesia. Kerajaan ini diperkirakan telah muncul sekitar era ke-5, atau sekitar tahun 400 M. bukti bahwa Kerajaan Kutai ini dibangun pada era tersebut adalah, dengan ditemukannya 7 buah prasasti Yupa.
Letak Kerajaan Kutai ini di Muara Kaman Kalimantan Timur, atau erat dengan Kota Tenggarong di sekitar Sungai Mahakam. Sayangnya informasi lengkap mengenai Kerajaan Kutai ini tidak banyak ditemukan. Namun sumber utamanya yaitu 7 buah prasasti tersebut. penggunaan nama Kutai pada kerajaan di Kalimantan Timur ini, diambil dari ditemukannya prasasti yupa di tempat Kutai Kalimantan Timur.
Ada 7 buah kerikil tulis yang disebut dengan Yupa, yang ditulis dalam karakter pallawa dengan bahasa sansekerta yang telah disusun dalam bentuk syair. Prasasti Yupa tersebut yakni jenis prasasti tertua di Indonesia. Di dalamnya terdapat pernyataan bahwa di sana telah berdiri kerajaan Hindu tertua yang berjulukan Kerajaan Kutai.
Yupa yakni sebuah tugu, yang dipakai juga sebagai tugu peringatan yang pada ketika itu dibentuk oleh para Brahmana. Tugu tersebut dibentuk atas kedermawanan Raja Mulawarman. Tertulis di Yupa tersebut bahwa Raja Mulawarman yakni raja yang baik dan juga kuat. Raja Mulawarman yakni anak dari Aswawarman, dan cucu dari Raja Kudungga. Yang dimana Raja tersebut telah memberi 2000 ekor sapi kepada para Brahmana pada masa itu.
Salah satu Yupa yang ditemukan itu sekarang berada di Museum Nasional Republik Indonesia Jakarta. Kerajaan Kutai didirikan pertama kali oleh Raja Kudungga, kemudian dilanjutkan oleh Aswawarman, dan mengalami puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Raja Mulawarman. Hal itu tertulis di dalam Yupa tersebut. dan Raja yang ketika itu berkuasa di Kerajaan Kutai yakni Raja Aswawarman, ayah dari Raja Mulawarman.
Siapa Pendiri Kerajaan Kutai?
Seperti klarifikasi sebelumnya bahwa pendiri dari kerajaan tersebut yakni Raja Kudungga. Yaitu raja yang menerima gelar Wangsakerta, yang artinya yakni pembentuk keluarga raja. Raja Kudungga juga menerima julukan yaitu Dewa Ansuman dan Dewa Matahari.
Pemberian gelar tersebut juga disebutkan di stupa peninggalan Kerajaan Kutai. Namun ada juga dongeng yang menyebutkan, bahwa sebetulnya pendiri Kerajaan Kutai itu yakni Raja Aswawarman. Memang tidak ada bukti otentik mengenai siapa pendiri niscaya Kerajaan Kutai.
Silsilah Keluarga Yang Ada Di Kerajaan Kutai
Kudungga yakni Raja pertama yang memimpin di Kerajaan Kutai, yang dimana Beliau mempunyai Putra berjulukan Aswawarman. Aswawarman pun mempunyai Putra yang diberi nama Mulawarman. Setelah Raja Aswawarman memimpin Kutai, kerajaan tersebut dipimpin oleh anaknya yaitu Mulawarman. Menurut dongeng sejarahnya, Raja Mulawarman ini merupakan raja yang mulia dan mempunyai kebijaksanaan baik. Berikut ini silsilah lengkap dari Kerajaan Kutai :
Maharaja Kudungga mempunyai gelar Anumerta Dewawarman
Jika dilihat dari namanya maka nama Kudungga tersebut, yakni nama orisinil orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama India. Kedudukan Raja Kudungga ini awalnya hanya sebagai Kepala Suku. Dengan masuknya dampak agama Hindu, maka Raja Kudungga pun mengubah struktur pemerintahan menjadi sebuah kerajaan.
Setelah itu barulah ia mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang raja. Selanjutnya pergantian raja ini terjadi secara turun temurun.
Maharaja Aswawarman mempunyai gelar Wangsakerta dan Dewa Ansuman
Pada prasasti Yupa tersebut diceritakan juga bahwa Raja Aswawarman yakni raja yang sangat cakap dan juga kuat. Saat pemerintahannya ia memperluas wilayah Kerajaan Kutai. Terbukti dengan dilakukannya Upacara Asmawedha pada masa itu.
Upacara tersebut juga pernah dilakukan oleh masyarakat India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta. Pada program itu dilakukan juga sebuah pelepasan kuda yaitu untuk memilih batas kekuasaan Kerajaan Kutai.
Maharaja Mulawarman ( anak dari Aswawarman )
Raja Mulawarman yakni anak dari Raja Aswawarman, yang juga menjadi raja terbesar di Kerajaan Kutai. Di masa pemerintahannya Raja Mulawarman ini membawa Kerajaan Kutai pada masa kejayaannya.
Di masa itu pula, rakyat hidup dengan tentram dan juga sejahtera. Sehingga Raja Mulawarman pun melakukan upacara kurban emas yang jumlahnya sangat melimpah.
Selanjutnya nama-nama raja pengganti Raja Mulawarman, diantaranya sebagai berikut :
- Maharaja Marawijaya Warman
- Maharaja Gajayana Warman
- Maharaja Tungga Warman
- Maharaja Jayanaga Warman
- Maharaja Nalasinga Warman
- Maharaja Nala Parana Tungga Warman
- Maharaja Gadingga Warman Dewa
- Maharaja Indra Warman Dewa
- Maharaja Candrawarman
- Maharaja Sri Langka Dewa Warman
- Maharaja Guna Parana Dewa Warman
- Maharaja Wijaya Warman
- Maharaja Sri Aji Dewa Warman
- Maharaja Mulia Putera Warman
- Maharaja Nala Pandita Warman
- Maharaja Indra Paruta Dewa Warman
- Maharaja Dharma Setia Warman
Letak Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai letaknya berada di tepi Sungai Mahakam. Lebih tepatnya di kecamatan Muarakaman, Kutai Kalimantan Timur. Wilayah dari Kerajaan Kutai ini memang sangat luas. Bahkan hampir menguasai seluruh tempat di Kalimantan.
Masa-Masa Kejayaan Kerajaan Kutai
Kehidupan dari Kerajaan Kutai ini terbilang sangat makmur dan sejahtera. Terbukti dengan ditemukannya Prasasti Yupa tersebut di Muara Kaman. Masa kejayaan tersebut berada di masa pemerintahan Raja Mulawarman. Sayangnya kerajaan ini meredup ketika masa pemerintahan Dinasti Kudungga. Meredupnya Kerajaan Kutai terjadi ketika Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Singosari sedang mengalami masa-masa gemilang.
Sejak itulah Kerajaan Kutai yang ketika itu berada di bawah pemerintahan Dinasti Kudungga tidak terlihat lagi. Kudungga itu sendiri berasal dari Kerajaan Campa yang berada di Kamboja. Aswawarman yakni anak dari Raja Kudungga, yang dipercaya sebagai raja pertama yang memimpin Kerajaan Kutai. Yang mempunyai sebutan Wangsakerta. Tetapi di beberapa sejarah tersebut ada yang menganggap bahwa Raja Kudungga menjadi raja pertama di Kerajaan Kutai.
Berikut ini masa kejayaan Kerajaan Kutai di beberapa bidang, diantaranya yaitu :
Bidang politik
Di dalam prasasti yang ditemukan di Kutai, terdapat satu prasasti yang di dalamnya tertulis Sang Maharaja Kudungga yang sangat mulia mempunyai putra yang mahsyur. Putranya itu berjulukan Sang Aswawarman, mirip Sang Ansuman atau Dewa Matahari yang menumbuhkan keluarga yang mulia.
Sang Aswawarman ini mempunyai 3 orang putra yang ibarat 3 api yang suci. Dan yang paling dikenal dari ketiga putranya yakni Mulawarman. Raja yang mempunyai peradaban yang baik, besar lengan berkuasa dan juga sangat kuasa. Sang Mulawarman ini telah mengadakan selamatan emas yang jumlahnya sangat banyak. tugu kerikil tersebut didirikan untuk peringatan kenduri, oleh para Brahmana.
Dari Prasasti Yupa tersebut juga, diketahui ada beberapa nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai. Raja yang pertama berjulukan Raja Kudungga, yang mempunyai nama orisinil Indonesia. Yang dimana Beliau mempunyai putra berjulukan Aswawarman yang menjadi pendiri dinasti sekaligus pembentuk keluarga atau Wangsakerta.
Prasasti Yupa itu juga menerangkan bahwa raja-raja yang memerintah Kerajaan Kutai yakni orang-orang orisinil Indonesia yang beragama Hindu.
Bidang ekonomi
Jika dilihat secara geografis Kerajaan Kutai terletak di jalur perdagangan diantara Cina dan India. Letak Kerajaan Kutai ini memang merupakan tempat yang menarik, yang disinggahi oleh para pedagang pasa masa itu. Hal itu terbukti dari kegiatan perdagangannya yang telah menjadi bab dari Kerajaan Kutai selain di bidang pertanian.
Di keterangan tersebut juga tertulis di Prasasti, bahwa Raja Mulawarman pernah menawarkan 2000 ekor sapi kepada para Brahmana. Pertanian dan peternakan diperkirakan menjadi mata pencaharian utama masyarakat Kutai ketika itu.
Letak kerajaan ini yang berada di tepi Sungai Mahakam, menciptakan kerajaan tersebut dipakai sebagai jalur transportasi di laut. Yang menciptakan perdagangan di Kutai berjalan dengan ramai. Bagi para pedagang yang berada di luar Kutai dan ingin berjualan di sekitar wilayah Kutai, maka harus memberi hadiah pada raja sebagai bentuk izin untuk berdagang.
Pemberian hadian tersebut biasanya berupa barang dagangan yang harganya mahal, pemberian tersebut akan dianggap sebagai pajak untuk pihak kerajaan.
Bidang agama
Kebudayaan masyarakat Kutai ketika itu masih erat kaitannya dengan kepercayaan yang mereka anut. Yupa yakni salah satu hasil kebudayaan dari masyarakat Kutai. Yupa merupakan tugu kerikil yang menjadi warisan dari nenek moyang Indonesia, yang sudah ada semenjak zaman Megalitikum.
Salah satu Yupa tersebut menyebutkan juga bahwa terdapat tempat suci yang berjulukan Waprakeswara, yang merupakan tempat pemujaan pada Dewa Siwa. Maka dari itu disimpulkan bahwa masyarakat Kutai yakni penganut agama Hindu Siwa. Namun masyarakat Kutai juga masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan orisinil mereka.
Bidang sosial dan budaya
Kebanyakan masyarakat Kutai memang memeluk agama Hindu, tak heran jikalau mereka telah mendapatkan dampak agama Hindu. Dan kehidupan agama mereka juga sudah lebih maju. Misalnya terdapat upacara pemberkatan bagi seseorang yang memeluk agama Hindu, yang disebut dengan Vratyastoma.
Upacara tersebut telah dilaksanakan semenjak masa pemerintahan Aswawarman, yang dipimpin oleh para pendeta yang berasal dari India. Di masa pemerintahan Mulawarman, barulah upacara tersebut dipimpin oleh para Brahmana yang berasal dari Indonesia. Dilihat dari hal itu, disimpulkan juga bahwa kaum Brahmana yang berasal dari Indonesia, telah mempunyai tingkat intelektual yang tinggi yang bisa menguasai bahasa sansekerta.
Bahasa sansakerta telah menjadi bahasa resmi Kaum Brahmana untuk hal-hal yang bekerjasama dengan keagamaan. Dengan masuknya budaya India ke Nusantara Indonesia, maka kebudayaan Indonesia pun mempunyai perubahan. Perubahan yang paling menonjol adalah, ketika sistem pemerintahan dikepalai oleh Raja. Sebelum budaya India masuk, sistem pemerintahan dikepalai oleh seorang Kepala Suku.
Budaya lainnya yang ada di masa itu adalah, kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia yang menciptakan tugu batu. Bangsa Indonesia telah menyesuaikan unsur kebudayaan asing, dengan kebudayaan orisinil yang dimiliki oleh bangsa Indonesia itu sendiri.
Beberapa Barang Peninggalan Kerajaan Kutai
Ketopong Sultan Kutai
Ketopong sultan yakni sebuah mahkota raja yang berasal dari Kerajaan Kutai. Mahkota tersebut dibentuk dari bahan-bahan emas, yang mempunyai berat sekitar 1,98 kg. hingga ketika ini mahkota raja tersebut masih disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Kalung Uncal Kerajaan Kutai
Peninggalan lainnya dari Kerajaan Kutai yakni Kalung Uncal Kerajaan Kutai, yang juga merupakan kalung emas dengan berat sekitar 170 gr. Yang dihiasi oleh liontin dengan relief Kisah Ramayana. Kalung Uncal tersebut yakni salah satu atribut yang berasal dari Kerajaan Kutai, yang juga pernah dikenakan oleh Sultan Kutai Kartanegara.
Menurut para ahli, Kalung Uncal tersebut diperkirakan berasal dari India. Hingga ketika ini hanya ada 2 Kalung Uncal di dunia. Yang pertama yang berasal dari India, dan yang kedua yang sekarang berada di Museum Mulawarman Kota Tenggarong.
Kalung Ciwa
Kalung Ciwa juga menjadi salah satu barang peninggalan dari Kerajaan Kutai, yang dinilai bersejarah. Kalung itu ditemukan di masa pemerintahan Sultan Sultan Aji Muhamad Sulaiman, dan ditemukan di sekitar Danau Lipan Muara Kaman pada tahun 1890. Sampai ketika ini kalung tersebut masih dipakai sebagai aksesori kerajaan, yang dipakai oleh para raja ketika ada program pengangkatan raja baru.
Pedang Sultan Kutai
Pedang Sultan Kutai juga dibuah dari materi emas yang cukup padat. Pada bab gagang terdapat gesekan berbentuk hewan harimau, yang siap-siap akan menerkam musuhnya. Di bab ujung sarung pedang, terdapat hiasan gesekan berbentuk buaya. Pedang Sultan Kutai ini juga disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Kura-Kura Emas
Peninggalan Kerajaan Kutai yang satu ini disimpan di Museum Malawarman, benda berbentuk kura-kura ini ukurannya hanya setengah kepalan tangan. Kura-Kura Emas ditemukan di Lohn Lalang, tepatnya di Hulu Sungai Mahakam.
Kelambu Kuning
Ada banyak peninggalan Kerajaan Kutai yang dipercaya mempunyai kekuatan magis, yang kemudian barang peninggalan tersebut akan disimpan di dalam sebuah kelambu berwarna kuning. Yang tujuannya yakni untuk menghindari bala atau peristiwa yang bisa ditimbulkan dari benda tersebut.
Keris Bukit Kang
Peninggalan yang satu ini dikenakan oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu, atau Permaisuri dari Sultan Kutai Kertanegara yang paling pertama. Keris tersebut disebut dengan nama Keris Bukit Kang.
Tali Juwita
Tali Juwita yakni sebuah tali yang dibentuk dari benang yang jumlahnya ada 21 helai. Tali ini biasanya dipakai pada ketika upacara adat bepelas dilangsungkan. Tali Juwita mempunyai simbol 7 muara dan 3 anak sungai. Sungai tersebut yakni Sungai Kelinjau, Sungai Kedang Pahu, dan juga Sungai Belayan.
Tempat Duduk Raja
Tempat Duduk Raja juga menjadi salah satu barang peninggalan Kerajaan Kutai, yang hingga ketika ini masih disimpan di Museum Malawarman.
Runtuhnya Kerajaan Kutai
Setelah mengalami masa-masa puncak kejayaan, kesannya Kerajaan Kutai juga harus mengalami keruntuhan. Keruntuhan tersebut terjadi di masa pemerintahan Raja Maharaja Dharma Setia, yang tewas ketika berperang. Ia tewas di tangan Raja Kutai yang ke-13 yaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.
Perlu anda ketahui bahwa Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara yakni 2 wilayah Kutai yang berbeda. Kerajaan Kutai Kartanegara yakni Ibukota Kutai Lama yang pertama kali. Dalam sastra Jawa, Kutai Kartanegara ini disebut dengan Negarakertagama. Kutai Negara kemudian menjadi kerajaan islam yang disebut dengan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Itulah klarifikasi dan ulasan lengkap mengenai Kerajaan Kutai, dimulai dari dongeng sejarahnya dan keruntuhannya. Semoga artikel ini sanggup menambah wawasan kita semua, dan semoga bermanfaat.
Baca Juga :
Bela Negara : Pengertian, Unsur, Fungsi, Tujuuan, Dan Manfaatnya Lengkap
Sistem Pertahanan Dan Keamanan Negara Republik Indonesia
Sumber aciknadzirah.blogspot.com