Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Petani Padi Di Ngawi Was-Was Serangan Wbc Merebak 19 Kecamatan

Konten [Tampil]

Kabartani.com – Pada awal demam isu tanam tahun ini petani padi di Ngawi dibentuk khawatir terhadap serangan hama tanaman padi. Tak tanggung­tanggung, hama sejenis wereng batang coklat, penggerek batang, xantomonas dan prycularia serang ratusan hektar tanaman padi yang masih berumur sekitar 1,5 bulan.


Wabah serangan hama tanaman padi ini sedikitnya menyerang hampir menyeluruh ke 19 wilayah kecamatan di Ngawi.


Untuk mengantisipasi penyebaran hama wereng maupun lainya, kata Marsudi, pihaknya mulai Rabu pekan kemudian sudah mengerahkan beberapa orang petugas untuk terjun di sepuluh titik yang teridentifikasi terkena serangan hama khususnya wereng. Kegiatan tersebut terus berlanjut hingga kini ini hingga penyebaran hama wereng bisa

dikendalikan.


“Serangan wereng demam isu tanam kali ini memang menyeluruh semua wilayah kecamatan di Ngawi ini. Namun info yang kami terima masih spot­spot, artinya di satu lahan tidak semua terkena meski demikian sudah kami instruksikan kepada tim pencegahan untuk turun lapangan,” terang Marsudi Kepala Dinas Pertanian Ngawi, Selasa (10/01).


Marsudi menambahkan, serangan hama wereng pada demam isu tanam kali ini, merupakan efek dari demam isu yang tidak menentu ibarat curah hujan tinggi maupun cuaca panas dengan kondisi berawan ibarat kini ini menciptakan ledakan hama wereng.


Dia menghimbau kepada petani, apabila areal tanaman padi miliknya ada tanda-tanda serangan hama wereng maupun penggerek batang secepatnya menunjukkan info kepada Dinas Pertanian atau kepada petugas penyuluh pertanian.


“Untuk mengantisipasi gagal panen sangat kami harapkan kepada petani untuk mengikuti aktivitas asuransi perjuangan tani. Agar mereka para petani yang mengalami gagal panen misalkan dapat mendapat ganti rugi atau semacam klaim asuransi,” terang Marsudi.


Bebernya, istilah ganti rugi gagal panen hanya diberikan pada petani yang mengikuti aktivitas asuransi perjuangan tani dari PT Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo). Caranya dalam setiap satu hektar lahan membayar premi sebesar Rp 36 ribu per bulan dan dapat melaksanakan klaim asuransi apabila tingkat kerusakan tanaman diatas 75 persen.


Sementara Hariyanto petani asal Desa Teguhan, Kecamatan Paron , mengaku hingga kini ini sejak tanaman padi miliknya mulai terjangkit hama belum ada satupun pihak dari pemerintah melaksanakan sosialisasi ataupun pencegahan.


“Kok belum lihat ada petugas dari dinas terkait yang melaksanakan sosialisasi pencegahan hama di wilayah sini apalagi penyemprotan massal,” ujar Hariyanto.


Sehinggga untuk menanggulangi serangan hama yang datangnya secara mendadak tersebut dirinya hanya menggunakan insektisida tertentu dengan berbekal pengalaman terbatas akan hama. Sebagai petani padi, Hariyanto sendiri mengaku masih stress berat dengan serangan hama wereng yang terjadi pada 2010 lalu.


Simak juga 




Sumber https://kabartani.com