√ Wamenag Sinyalir Praktek Gaib Dan Dukun Laku Di Pilkada
Konten [Tampil]
Pekanbaru(Pinmas)--Wakil Menteri Agama (Wamenag) Prof. Dr. Nasaruddin Umar mengatakan, di kurun reformasi dan Globalisasi cukup umur ini ada fenomena yang menarik di tanah air bahwa menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) praktek gaib dan perdukunan makin laris.
Hal ini merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan, kata Nasaruddin Umar di hadapan ratusan warga Kementerian Agama Provinsi Riau ketika malam tasyakuran Hari Amal Bakti (HAB) ke-66 kementerian tersebut di Pekanbaru, Minggu (8/1) malam.
"Praktek gaib dan dukun laku di Pilkada," kata Nasaruddin yang tiba-tiba disambut tepuk tangan riuh para tamu undangan. Hadir pada program tersebut Ka Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Drs. H. Asyari Nur SH MM dan para pejabat di lingkungan kementerian setempat.
Wamenag mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. Sebab, selain merusak nilai-nilai agama juga membawa efek jelek bagi kehidupan berbangsa. Sementara di sisi lain ia melihat para calon yang bertarung dalam Pilkada merasa tak percaya diri kalau tidak di-back up dukun. Mereka merasa tak punya pegangan. Padahal perbuatan demikian telah menyeret yang bersangkutan terjerumus ke tindakan musrik.
Pada ketika bersamaan Pilkada berlangsung, lanjut Wamenag, permainan sogok atau amplop ikut mengiringi. Semua harus berbau amplop untuk memuluskan harapan yang pada kesannya secara tak sadar membawa keruntuhan akhlak, etika dan nilai agama.
Jika kejujuran dan bertindak di luar koridor tuntunan agama, katanya, jangan heran kekerasan atas nama agama pun ikut mewarnai, menyerupai t3r0risme. "Orang seenaknya mengebom, menewaskan orang banyak. Padahal berbuat demikian tak ada kamusnya dalam agama mana pun," ia menegaskan.
Degradasi moral makin memprihatinkan dengan ditandainya angka perceraian yang terus meningkat. Dari dua juta perkawinan pada 2010 saja, sekitar 10 persennya berakhir dengan cerai. Yang menggugat cerai pun kebanyakan perempuan dan banyak terjadi pada pasangan usia muda. Jika itu terus berlanjut, perkara sosial pun makin besar.
Sebab, katanya lagi, kalau yang bercerai itu kebanyakan pasangan dari usia muda dan rata-rata mempunyai dua atau tiga anak kecil, secara ekonomi akan menjadikan perkara pula. Apa lagi kalau anak bersangkutan di bawah asuhan janda. "Menjadi janda muda itu juga persoalan, bersolek salah. Tak bersolek apa lagi," ucapnya dan disambut tepuk tangan.
Pada sambutan malam tasyakuran tersebut Wamenag juga menyinggung pemunculan anutan sempalan. Kelompok dari kalangan tertentu yang gampang sekali menilai kelompok lain sebagai komunitas sesat. "Sedikit-sedikit bid`ah, melontarkan kafir kepada pihak lain," katanya.
Tanpa memakai ukuran yang jelas, kelompok tersebut mengecam kelompok lain sehingga muncul disharmoni di tengah masyarakat.
Spekulatif
Masyarakat Indonesia sekarang pun secara tak sadar telah digiring dalam suasana hidup spekulatif dan konsumtif. Konsumtif karena cepat sekali membuang suatu produk yang masih sanggup bermanfaat bagi kehidupan keseharian namun barang yang dimiliki diabaikan. Tanpa menyebut nama suatu produk, ia menjelaskan bahwa membuang barang yang masih bermanfaat sama saja dengan perbuatan mubazir.
"Perbuatan mubazir sama dengan berteman dengan setan," katanya dengan disambut gelak tawa hadirin.
Percaya yang sifatnya spekulatif, berdasarkan Nasaruddin Umar, sanggup dilihat dari anjuran menabung. Gerakan menabung yaitu berbuatan baik. Sayangnya gerakan itu ikut diwarnai dengan iming-iming hadiah yang mendorong para nasabah melaksanakan tindakan spekulatif.
Hadiah telepon genggam, mobil, hadiah umroh dan barang lainnya menggiring nasabah kepada perbuatan irasional dan menjauhkan umat dari agama. Padahal, hadiah tersebut merupakan akumulasi dari bunga bank para nasabah yang dikembalikan ke nasabah lagi. Amerika Serikat saja sebagai negara maju tak mengajakarkan nasabah bertindak spekulatif melalui promosi hadiah untuk menabung, ia menjelaskan.
Terkait dengan kelompok sempalan, ia menyatakan prihatin. Pasalnya di kurun reformasi ini, dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, gampang sekali menggiring umat kearah perpecahan. Dicontohkan ketika penentuan awal 1 Syawal, atau Idul Fitri. Tanpa memakai sistem dan parameter yang berlaku dalam Islam, mereka berani menetapkan Idulfitri tiga hari lebih cepat dari ketetapan Sidang Istbat yang dilakukan pemerintah.
Bahkan ada yang menetapkan lebih usang lagi dari ketetapan pemerintah. Ia khawatir kalau fenomena itu berlangsung terus, sanggup jadi pertengahan Ramadhan nanti sanggup ada umat Islam menyelenggarakan Lebaran. "Ini sanggup melukai perasaan umat, sebab keyakinannya diacak-acak," tegasnya.
Pihak Kementerian Agama, untuk menetapkan awal Ramadhan dan Lebaran, sudah melaksanakan pendekatan dengan pakarnya. ITB dan forum astronomi dilibatkan. Belum lagi melalui kajian ulama. "Jadi, saya pun telah mengingatkan kalangan pemuka agama, ulama dan pimpinan tarekot untuk mengindahkan hukum dari kementerian agama," jelasnya.
Dari banyaknya perkara yang merugikan umat Islam, tugas tokoh agama dan pendidikan agama harus dikedepankan. Kesenjangan sosial harus diatasi melalui pemberdayaan zakat, mengoptimalkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). (ant/edy)
Oleh : TS (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=8961)
Sumber http://mtsmafaljpr.blogspot.com
Hal ini merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan, kata Nasaruddin Umar di hadapan ratusan warga Kementerian Agama Provinsi Riau ketika malam tasyakuran Hari Amal Bakti (HAB) ke-66 kementerian tersebut di Pekanbaru, Minggu (8/1) malam.
"Praktek gaib dan dukun laku di Pilkada," kata Nasaruddin yang tiba-tiba disambut tepuk tangan riuh para tamu undangan. Hadir pada program tersebut Ka Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Drs. H. Asyari Nur SH MM dan para pejabat di lingkungan kementerian setempat.
Wamenag mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. Sebab, selain merusak nilai-nilai agama juga membawa efek jelek bagi kehidupan berbangsa. Sementara di sisi lain ia melihat para calon yang bertarung dalam Pilkada merasa tak percaya diri kalau tidak di-back up dukun. Mereka merasa tak punya pegangan. Padahal perbuatan demikian telah menyeret yang bersangkutan terjerumus ke tindakan musrik.
Pada ketika bersamaan Pilkada berlangsung, lanjut Wamenag, permainan sogok atau amplop ikut mengiringi. Semua harus berbau amplop untuk memuluskan harapan yang pada kesannya secara tak sadar membawa keruntuhan akhlak, etika dan nilai agama.
Jika kejujuran dan bertindak di luar koridor tuntunan agama, katanya, jangan heran kekerasan atas nama agama pun ikut mewarnai, menyerupai t3r0risme. "Orang seenaknya mengebom, menewaskan orang banyak. Padahal berbuat demikian tak ada kamusnya dalam agama mana pun," ia menegaskan.
Degradasi moral makin memprihatinkan dengan ditandainya angka perceraian yang terus meningkat. Dari dua juta perkawinan pada 2010 saja, sekitar 10 persennya berakhir dengan cerai. Yang menggugat cerai pun kebanyakan perempuan dan banyak terjadi pada pasangan usia muda. Jika itu terus berlanjut, perkara sosial pun makin besar.
Sebab, katanya lagi, kalau yang bercerai itu kebanyakan pasangan dari usia muda dan rata-rata mempunyai dua atau tiga anak kecil, secara ekonomi akan menjadikan perkara pula. Apa lagi kalau anak bersangkutan di bawah asuhan janda. "Menjadi janda muda itu juga persoalan, bersolek salah. Tak bersolek apa lagi," ucapnya dan disambut tepuk tangan.
Pada sambutan malam tasyakuran tersebut Wamenag juga menyinggung pemunculan anutan sempalan. Kelompok dari kalangan tertentu yang gampang sekali menilai kelompok lain sebagai komunitas sesat. "Sedikit-sedikit bid`ah, melontarkan kafir kepada pihak lain," katanya.
Tanpa memakai ukuran yang jelas, kelompok tersebut mengecam kelompok lain sehingga muncul disharmoni di tengah masyarakat.
Spekulatif
Masyarakat Indonesia sekarang pun secara tak sadar telah digiring dalam suasana hidup spekulatif dan konsumtif. Konsumtif karena cepat sekali membuang suatu produk yang masih sanggup bermanfaat bagi kehidupan keseharian namun barang yang dimiliki diabaikan. Tanpa menyebut nama suatu produk, ia menjelaskan bahwa membuang barang yang masih bermanfaat sama saja dengan perbuatan mubazir.
"Perbuatan mubazir sama dengan berteman dengan setan," katanya dengan disambut gelak tawa hadirin.
Percaya yang sifatnya spekulatif, berdasarkan Nasaruddin Umar, sanggup dilihat dari anjuran menabung. Gerakan menabung yaitu berbuatan baik. Sayangnya gerakan itu ikut diwarnai dengan iming-iming hadiah yang mendorong para nasabah melaksanakan tindakan spekulatif.
Hadiah telepon genggam, mobil, hadiah umroh dan barang lainnya menggiring nasabah kepada perbuatan irasional dan menjauhkan umat dari agama. Padahal, hadiah tersebut merupakan akumulasi dari bunga bank para nasabah yang dikembalikan ke nasabah lagi. Amerika Serikat saja sebagai negara maju tak mengajakarkan nasabah bertindak spekulatif melalui promosi hadiah untuk menabung, ia menjelaskan.
Terkait dengan kelompok sempalan, ia menyatakan prihatin. Pasalnya di kurun reformasi ini, dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, gampang sekali menggiring umat kearah perpecahan. Dicontohkan ketika penentuan awal 1 Syawal, atau Idul Fitri. Tanpa memakai sistem dan parameter yang berlaku dalam Islam, mereka berani menetapkan Idulfitri tiga hari lebih cepat dari ketetapan Sidang Istbat yang dilakukan pemerintah.
Bahkan ada yang menetapkan lebih usang lagi dari ketetapan pemerintah. Ia khawatir kalau fenomena itu berlangsung terus, sanggup jadi pertengahan Ramadhan nanti sanggup ada umat Islam menyelenggarakan Lebaran. "Ini sanggup melukai perasaan umat, sebab keyakinannya diacak-acak," tegasnya.
Pihak Kementerian Agama, untuk menetapkan awal Ramadhan dan Lebaran, sudah melaksanakan pendekatan dengan pakarnya. ITB dan forum astronomi dilibatkan. Belum lagi melalui kajian ulama. "Jadi, saya pun telah mengingatkan kalangan pemuka agama, ulama dan pimpinan tarekot untuk mengindahkan hukum dari kementerian agama," jelasnya.
Dari banyaknya perkara yang merugikan umat Islam, tugas tokoh agama dan pendidikan agama harus dikedepankan. Kesenjangan sosial harus diatasi melalui pemberdayaan zakat, mengoptimalkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). (ant/edy)
Oleh : TS (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=8961)