√ Dua Maritim Bertemu
Konten [Tampil]
Allah SWT berfirman dari ayat (19-22), yang artinya “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kau manakah yang kau dustakan? Dari SALAH SATU diantara keduanya keluar mutiara dan marjan. “. Maha benar Allah dengan segala firmanNya. (diterjemahan Depag kata “salah satu” ini tidak disebutkan, maka hal ini ada kekurangan dari terjemahan yang sanggup merubah makna yang dikandung )
Surah Arrahman berdasarkan pendapat Ibnu Mas’ud dan Muqatil, Madaniyaah semuanya. Tetapi yang lebih sempurna dan benar, sebagaimana yang disebutkan oleh imam Al Qurthubi dan Ibnu katsir, serta jumhur ulama, makkiyah semuanya. Dinamakan Surah Ar Rahman alasannya ialah pembukaannya di mulai dengan salah satu nama, dari nama-nama Allah, yaitu ” Ar Rahmaan “.
Ar Rahman ini ialah Isim mubhalaghah (berlebihan) dari kata “Ar Rahmah” kata ini lebih tinggi kandungannya dari Arrahiim. Kenapa,..?
Karena Arrahmaan, rahmat dan kasih sayang Allah untuk sekalian alam, sementara Ar Rahiim tertentu untuk kaum Muslimin saja. Dinamakan juga surah Ar Rahman ini dengan ” ‘Aruusul Qur’an = Pengantinnya Al Qur’an “, sesuai dengan Hadist Rasulullah SAW dari Ali karramahullahu al wajhah, marfu’an dari rasulullah SAW ” Tiap-tiap Sesuatu itu, ada pengantin, atau pangeran, maka surah Ar Rahman ini ialah pengantinnya , atau pangerannya Al Qur’an “.
“Dua maritim yang bertemu, diantara keduanya ada batas yang tidak sanggup dilampaui”. ( Ar Rahman 19-20) Maksudnya Allah mengutus, atau menciptakan dua lautan satu rasanya asin, satunya lagi tawar. dan keduanya saling bertemu.
Secara sepintas, kita melihat dengan pandangan sekejap mata saja, tidak ada batas diantara keduanya, padahal diantara keduanya ada batas yang membatasinya. “Dan keduanya tidak sanggup saling melampaui “, maksudnya, meskipun mereka bercampur dan berkumpul, namun tetap rasa dan ciri khas masing-masingnya sesuai dengan yang semula, yaitu sesuai dengan asalnya.
Ayat ini sesuai dengan firman Allah dalam surah (Al Furqaan 25/53). “Keluar dari salah satu keduanya ” Permata dan marjan,( sejenis hiasan seumpama bros yang warnanya kemerah-merahan ). ( Tafsir Al munir ). Disini ada kata yang didhamirkan ( disembunyikan yaitu kata “Ahad “). Seharusnya “Yakhruju min AHADI himaa “.kenapa demikian, alasannya ialah sudah jelas, permata dan marjan tersebut tidak ada keluar, kecuali di air yang ada garamnya permata dan marjan, tidak keluar dari air tawar. Kenapa dihilangkan bacaan ” Ahad” ( salah satu) Nya ?, Itu diam-diam Allah yang jelas, untuk memudahkan pengecap kita dalam pengucapannya.
Sekarang kita lihat surah Al Furqan yang menjelaskan arti dua maritim itu. “Dan Allahlah yang membiarkan dua maritim mengalir berdampingan,yang satu tawar lagi segar, sementara satunya lagi asin lagi pahit. dan dijadikan diantara keduanya dinding dan batas yang menghalangi “
Dalam ayat diatas,disebutkan “Adzbun furaatun” “tawar amat segar “. Disini Allah tidak menggunakan kata penghubung “Waw = dan”. Tidak disebutkan “Adzbun WA Furaatun”. Ini menunjukan bahwa air yang tidak terlalu asin, atau tidak terlalu tawar, tidak termasuk dalam pembicaraan ini.
Setiap orang sanggup melihat ada air sungai yang terjun kelaut dan kalau diamati terbukti bahwa air sungai itu bertahap berubah warna dan rasanya sejauh percampurannya dengan air laut. dari kenyataan diatas sanggup difahami bahwa ada jenis air sungai dan maritim yang bercampur, namun ini tidak dinamakan ” Adzbun furaatun “, atau “Milhun ‘Ujaazun” (tawar lagi segar, asin yang sangat)
Kalau air ini terombang ambing dari maritim kesungai, kalau ia kelaut bertambah garamnya, semoga ia kesungai bertambah rasa tawarnya. Namun bukan air ini yang dimaksudkan ayat diatas. lantas air maritim mana yang disebutkan ayat diatas..?
Pada tahun 1873 ,para pakar ilmu kelautan dengan menggunakan kapal “challenger”, menemukan perbedaan ciri-ciri maritim dari segi kadar garamnya, temperatur, jenis ikan, binatang, dan sebagainya. Namun yang selalu menjadi pertanyaan,mengapa air tersebut tidak bercampur dan menyatu, meski keduanya bertemu? Jawabannya gres ditemukan pada tahun 1948, sehabis penelitian yang secama menyangkut samudra.
Rupanya perbedaan –perbedaan fundamental yang disebutkan diatas menimbulkan setiap jenis air tertentu terpisah dari jenis air yang lain, betapapun ia mengalir jauh. Gambar-gambar dari ruang angkasa pada simpulan era ke – 20,menunjukkan dengan sangat terang adanya batas-batas air di maritim tengah yang panas dan sangat asin. Dan di samudra Atlantik yang temperatur airnya lebih masbodoh serta kadar garamnya lebih rendah. Batas-batas itu juga terlihat di maritim merah dan Teluk Aden.
Muhammad Ibrahim As Sumaih guru besar pada fakultas sains, jurusan ilmu kelautan Universitas Qatar, dalam penelitian yang dilakukan di teluk Oman dan Persia (1984-1988),melalui sebuah kapal peneliti, menemukan perbedaan rinci dengan angka-angka dan gambar-gambar pada kedua teluk tersebut. Penelitiannya menemukan adanya tempat antara kedua teluk itu yang dinamai “Mixed water Area “, atau tempat “barzakh” istilah Al Qur’an.
Hasil penelitiannya juga menemukan adanya dua tingkat air pada area tersebut. Pertama , tingkat area yang bersumber dari teluk Oman, dan kedua tingkat bawah yang bersumber dari teluk Persia. Adapun area yang jauh dari ” Mixed water area” tersebut, tingkat air seragam adanya . Garis pemisah atau Barzakh yang memisahkan kedua tingkat pada mixed area tersebut berupa daya tarik stabil (gravitational stability), yang terdapat pada kedua tingkat tersebut, sehingga menghalangi percampuran dan pembaurannya.
Garis pemisah tersebut terdapat dalam kedalaman antara 10-50 meter. Kalau pertemuan air itu secara horizontal, Itulah barzakh (batas),yang disebut dalam Al Qur’an ((Subhanallah, wa masyaAllah, Al Qur’an sudah menyebutkan ribuan era lamanya, gres ditemukan kebenarannya sudah selama itu.)). Dan sangat kita kecewakan yang menemukan ini kebanyakan dari Eropah sana. Sementara kita Islam, malas-malas, tidak mau mencari dan meneliti.
Warisan yang ditinggalkan oleh Allah dan Rasulullah, yang memanfaatkannya justru non Islam. Sangat kita sesalkan. Tapi jangan pesimis, masih banyak waktu untuk kita mengubah dan mengejar segalanya. Islam pernah jaya begitu lamanya, mungkin saatnya sekarang giliran Eropah pula yang gemilang. Itulah adilnya Allah, maha benar Allah dengan segala firmanNya,menggantikan siang dengan malam, dan sebaliknya.
Kita harus mendapatkan kehebatan mereka dalam hal ini dengan tanpa berleha-leha. Masih ada waktu untuk merebut segalanya. (In Sya Allah, asal kita jangan sombong dan selalu berbangga diri tanpa dilandasi rasa syukur).
Air Sungai Amazon yang mengalir deras kelaut Atlantik hingga batas dua ratus Mil, masih tetap tawar. Demikian juga mata air-mata air di teluk Persia. Ikan nya sangat khas. dan masing-masing tidak sanggup hidup kecuali di lokasinya. Mungkin inilah yang dimaksud Al Qur’an “Hijran Mahjuura”.
Demikian rangkuman yang dikemukakan Prof. Dr. Abdul hamid Az Zanjani, yang dikemukakannya pada seminar Internasional,” Mukjizat Al Qur’an dan Sunnah , yang diadakan di Bandung , September 1994″. Muhammad Kamil Abdushamad dalam bukunya “I’jazilmi fi Qur’an menyampaikan hal yang senada diatas.
Wallahua’lam bisshawab.
***
Oleh: Rahima Sarmadi