Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Cara Mengatasi Penyakit Hawar Daun Pada Budidaya Kentang Di Isu Terkini Hujan

Konten [Tampil]

Kabartani.com – Di Indonesia, kentang ditanam di dataran tinggi yang mempunyai udara cuek dengan luas areal tanam untuk setiap tahunnya mencapai 70.000 ha dengan rerata produktivitas 17 ton/ha (BPS 2015).


Dalam kondisi yang optimal petani di Jawa Barat sanggup panen kentang dengan produktivitas mencapai 25 ton/ha, hasil tersebut menyamai hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusmana (2003). Namun, tidak jarang sebab serangan organisme pengganggu flora (OPT) hama dan penyakit serta penggunaan benih yang tidak terperinci hasil panen yang diperoleh petani kurang dari 15 ton/ha.


Akibat serangan salah satu penyakit utama kentang, yaitu penyakit hawar daun sanggup menjadikan kehilangan hasil hingga dengan 40% (Kusmana 2003, 2012).


Simak juga:



Perkembangan Penyakit Hawar Daun


Dari sekian banyak hama dan penyakit yang menyerang tumbuhan kentang, penyakit utama pada animo hujan ini yakni penyakit hawar daun yang dikenal dengan nama Phytophthora infestans.


Di Indonesia, serangan penyakit hawar daun yang cukup parah pernah terjadi pada tahun 2010 di mana pada ketika itu curah hujan sangat tinggi. Akibat serangan penyakit tersebut produktivitas kentang di petani menurun sehingga terjadi kekurangan pasokan kentang di pasar dan harga kentang konsumsi tinggi.


Akibat harga kentang konsumsi tinggi sementara produktivitas rendah, sebagian besar petani menjual semua hasil panennya. Biasanya petani kentang selalu menyisihkan sekitar 20–30% dari hasil panennya untuk dijadikan sebagai benih pada animo penanaman berikutnya.


Pada tahun 2011, sebab kekurangan benih areal pertanaman kentang nasional mengalami penurunan sehingga masuk kentang impor dari Banglades dan China yang menimbulkan gejolak di kalangan petani kentang di Pulau Jawa pada ketika itu. Pulau Jawa berkontribusi lebih dari 60% dari produksi kentang nasional.


Penyakit hawar daun berkembang biak sangat cepat pada curah hujan yang tinggi, kelembapan tinggi serta temperatur yang rendah. Penyakit dengan sumbangan angin gampang sekali menular dari satu lokasi ke lokasi lainnya sehingga dalam hitungan 2–3 hari apabila tumbuhan tidak diproteksi dan varietas kentang yang dipakai tidak tahan maka seluruh pertanaman akan rusak dan gagal panen.


 kentang ditanam di dataran tinggi yang mempunyai udara cuek dengan luas areal tanam untu √ Cara Mengatasi Penyakit HAWAR DAUN pada Budidaya Kentang di Musim Hujan


Gejala awal ditimbulkan oleh penyakit hawar daun yakni kepingan susunan daun terbawah terlihat ada noda berwarna cokelat menghitam pada ujung dan sisi daun, kemudian pada kepingan bawah daun terlihat adanya spora yang berwarna putih. Pada serangan yang berat tidak hanya menyerang daun bahkan batang tumbuhan pun menjadi hitam kecokelatan dan akibatnya batang tumbuhan patah.


Penyakit hawar daun sanggup ditangggulangi dengan beberapa cara di antaranya yakni memakai varietas yang resisten. Varietas resisten terhadap penyakit hawar daun telah tersedia ibarat varietas Repita dan Merbabu-17 yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian.


 kentang ditanam di dataran tinggi yang mempunyai udara cuek dengan luas areal tanam untu √ Cara Mengatasi Penyakit HAWAR DAUN pada Budidaya Kentang di Musim Hujan
Varietas kentang tahan dan toleran penyakit hawar daun (Phytophthora infestans)


Varietas Badan Litbang Pertanian lainnya yang direkomendasikan untuk ditanam pada animo hujan di antaranya yakni varietas Tenggo, Margahayu, Cipanas, GM 05, dan Andina, varietas tersebut tidak resisten namun toleran terhadap serangan penyakit hawar daun. Varietas kentang yang ditanam sebagian besar petani ketika ini yakni varietas Granola L dan Atlantic yang nota bene merupakan varietas yang peka terhadap serangan penyakit hawar daun.


Dengan memakai varietas yang resisten atau toleran terhadap serangan penyakit hawar daun, petani sanggup menghemat penggunaan fungisida hingga dengan 60% dengan produktivitas yang tetap tinggi. Dengan demikian, biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani sanggup ditekan, serta untuk petani kecil yang mempunyai input terbatas masih sanggup menanam kentang pada animo hujan.


Penggunaan Fungisida


Penyakit hawar daun juga sanggup dikendalikan dengan melaksanakan penyemprotan fungisida. Pengendalian dengan memakai fungisida secara preventif sangat dianjurkan, sebab apabila penyakit hawar daun sudah ada di tumbuhan maka sebagian besar fungisida tidak efektif. Kaprikornus begitu ada spot tanda-tanda serangan hawar daun harus segera diaplikasi fungisida.


Penggunaan takaran dan jenis fungisida yang sempurna sangat diperlukan, sebab tidak jarang petani memakai fungisida yang kurang sempurna sehingga tidak mengenai sasaran. Di samping takaran dan jenis fungisida yang tepat, waktu aplikasi juga sangat memilih efektivitas fungisida itu sendiri.


Pada intensitas curah hujan yang terus menerus, petani melaksanakan penyemprotan fungisida hingga 3 kali dalam seminggu dan frekuensi penyemprotan mulai dikurangi ketika tumbuhan menjelang berumur 1 bulan sebelum panen atau intensitas hujan mulai berkurang.


Penggunaan fungisida yang sistemik pada awal pertumbuhan kemudian diikuti dengan penggunaan fungisida kontak pada aplikasi penyemprotan berikutnya sanggup menahan serangan penyakit hawar daun pada masa awal pertumbuhan.


Penggunaan materi perekat pada setiap aplikasi fungisida pada animo hujan sanggup mengurangi terjadinya pembersihan sehingga fungisida yang sistemik akan lebih efektif masuk ke seluruh jaringan tanaman.


Pengendalian penyakit hawar daun yang paling efektif yakni dengan cara memakai varietas resisten atau toleran dikombinasikan dengan penggunaan fungisida yang tepat. Walaupun memakai varietas yang resisten, fungisida masih tetap harus dipakai namun dalam jumlah yang sangat terbatas, sebab varietas yang resisten tidak berarti imun terhadap serangan penyakit.


Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan penyakit hawar daun yakni dengan menghindari sumber benjol dari penyakit tersebut. Adapun yang menjadi sumber benjol yakni benih yang terinfeksi, sisa-sisa umbi yang ada di lapangan, pertanaman kentang yang ada di sekitar serta tumbuhan inang lainnya ibarat tomat.


Infeksi pada umbi sanggup terjadi ketika panen, yaitu umbi sewaktu panen menyentuh kepingan daun tumbuhan yang terinfeksi hawar daun, atau spora cendawan yang masih aktif di daun tercuci air hujan dan jatuh mengenai kepingan umbi ketika umbi belum dipanen.


Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya kepingan atas tumbuhan daun dan batang tumbuhan sebelum dilakukan pemanenan disemprot dengan herbisida. Lakukan pemanenan umbi pada ketika udara kering dan pastikan kulit umbi sudah besar lengan berkuasa sehingga tidak gampang terkelupas yang sanggup mengakibatkan benjol patogen gampang masuk ke dalam umbi ketika umbi disimpan di gudang atau selama pengangkutan.


 kentang ditanam di dataran tinggi yang mempunyai udara cuek dengan luas areal tanam untu √ Cara Mengatasi Penyakit HAWAR DAUN pada Budidaya Kentang di Musim Hujan


Senantisa harus menjaga sanitasi kebun jangan dibiarkan sisa-sisa umbi bekas panen awut-awutan di kebun. Umbi yang tidak terpakai habis panen dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam lubang yang disediakan kemudian dibenamkan, atau umbi yang tidak terpakai dimusnahkan dengan cara dibakar.


Karena penyakit hawar daun gampang dipindahkan atau ditularkan lewat angin maka pada kepingan pinggir di sekeliling tumbuhan sanggup dipagari dengan tumbuhan jagung sehingga spora yang berasal dari luar pertanaman sanggup tertahan oleh tumbuhan pagar tersebut.


Hal lainnya sanggup mengurangi terjadinya serangan penyakit hawar daun yakni dengan penggunaan benih sehat, kemudian menanam dengan jarak tanam yang lebih lebar sehingga kelembapan di sekitar permukaan tanah sanggup dikurangi.


Kesimpulan


Penyakit hawar daun merupakan penyakit utama yang tidak hanya menyerang tumbuhan kentang tapi juga menyerang tumbuhan tomat. Serangan penyakit hawar daun yang berat sanggup mengakibatkan gagal panen. Penyakit hawar daun sanggup dikendalikan dengan cara menanam varietas resisten dan penggunaan fungisida yang bijaksana.


Sumber : Kusmana & Liferdi (Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, 2016)



Sumber https://kabartani.com