Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Cara Efektif Kendalikan Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi

Konten [Tampil]

Kabartani.comTungro merupakan salah satu penyakit penting pada tumbuhan padi di Indonesia. Namun pengendalian penyakit ini cukup gampang dan murah jikalau petani sanggup mengenali tanda-tanda serangannya, epidemiologi penyakit tungro, dinamika populasi wereng hijau, hingga taktik pengendaliannya


Tanaman padi yang terjangkit penyakit tungro menunjukkan gejala yang khas, yakni perubahan warna daun muda menjadi kuning hingga jingga yang diikuti oleh melintirnya daun. Pertumbuhan tumbuhan padi menjadi terhambat dan kerdil lantaran jarak antar buku memendek.


Selain itu, ciri yang lainnya dimana jumlah anakan berkurang (tanaman muda lebih rentan) dan gabah akan berubah bentuk, sehingga tumbuhan tidak akan menunjukkan hasil sesuai potensinya. Tungro menyerang pertanaman padi mulai umur persemaian hingga 90 hari setelah tanam (HST).


Epidemiologi Penyakit Tungro


Penyakit tungro disebabkan oleh abses ganda dari dua jenis virus yang berbeda yaitu rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan rice tungro spherical virus (RTSV). Penyakit ini paling cepat ditularkan oleh vektor utama yakni spesies wereng hijau (Nephotettix virescens). Namun demikian, efektivitas penyebaran tungro oleh setiap spesies wereng hijau berbeda-beda di setiap tempat endemis.


Penyebaran penyakit tungro sanggup meluas secara cepat apabila terdapat kepadatan populasi wereng hijau dan adanya sumber inokulum tungro. Sumber inokulum tungro diantaranya ialah tumbuhan padi yang terinfeksi tungro, singgang, gulma, atau tumbuhan yang tumbuh dari biji tercecer (volunteer).


Penanaman varietas padi yang rentan terhadap serangan penyakit tungro, pertanaman yang tidak serempak, serta faktor lingkungan terutama demam isu hujan dan kelembapan yang tinggi, sangat menguntungkan bagi perkembangan wereng hijau.


Infeksi penyakit tungro sanggup terjadi semenjak di persemaian, atau pada perkara pertanaman padi serempak umumnya serangan terjadi sehabis tanam. Pada tempat endemis tungro, serangan tungro dengan intensitas tinggi berpeluang terjadi pada pertanaman padi yang lebih lambat dari pertanaman di sekitarnya yang telah memasuki fase pembungaan.


Salah satu penciri tumbuhan dinyatakan terancam serangan tungro apabila pada umur 14 HST ditemukan 5 rumpun yang bergejala tungro dari 10.000 rumpun tanaman, atau pada umur 21 HST ditemukan 1 rumpun tumbuhan bergejala tungro dari 1.000 rumpun tanaman.


 merupakan salah satu penyakit penting pada tumbuhan padi di Indonesia √ Cara Efektif Kendalikan Penyakit TUNGRO pada Tanaman Padi


Kehilangan hasil akhir abses penyakit tungro bervariasi bergantung pada periode pertumbuhan tumbuhan dikala terinfeksi, lokasi dan titik infeksi, demam isu tanam, dan ketahanan varietas.


Semakin muda tumbuhan terinfeksi semakin besar persentase kehilangan hasil yang ditimbulkan. Kehilangan hasil di sentra abses lebih tinggi daripada rumpun tumbuhan di pinggir infeksi. Selain itu, kehilangan hasil pada tumbuhan yang terinfeksi di demam isu hujan lebih tinggi daripada di demam isu kemarau.


Virus tungro tidak sanggup berkembang pada badan wereng hijau, namun terdapat pada alat tusuknya (mulut). Wereng hijau efektif menularkan virus tungro paling usang 7 hari sehabis akuisisi. Apabila tidak lagi menghisap tumbuhan yang terinfeksi tungro, maka wereng hijau menjadi serangga bebas virus tungro.


Sebaliknya jikalau menghisap tumbuhan yang terinfeksi, maka wereng hijau akan menjadi vektor aktif kembali. Selain itu, keefektifan penularan virus juga akan hilang sehabis terjadi pergantian kulit.


Periode makan akuisisi wereng hijau untuk mendapat virus dari tumbuhan sakit antara 5-30 menit, sedangkan periode makan inokulasi untuk menularkan virus yang diperoleh antara 7-30 menit. Rentang waktu dikala tumbuhan tertular dan munculnya tanda-tanda antara 6-15 hari.


Virus tungro tidak memerlukan masa inkubasi di dalam badan wereng hijau, sedangkan masa inkubasi pada tumbuhan berkisar antara 1-3 minggu. Virus tungro hanya ditularkan oleh wereng hijau secara semi persisten dan tidak terjadi multiplikasi virus di dalam badan vektor serta tidak terbawa pada keturunannya.


Ekobiologi Wereng Hijau


Tingkat abses awal penyakit tungro ditentukan oleh populasi wereng hijau infektif yang migrasi ke pertanaman. Perkembangan serangan selanjutnya ditentukan oleh persentase abses awal dan kepadatan populasi wereng hijau generasi pertama.


 merupakan salah satu penyakit penting pada tumbuhan padi di Indonesia √ Cara Efektif Kendalikan Penyakit TUNGRO pada Tanaman Padi


Populasi wereng hijau tidak meningkat hingga stadia anakan maksimum atau pembungaan pada lahan yang mengikuti rekomendasi teladan tanam. Sehingga tumbuhan pada dikala periode kritis sanggup terhindar dari abses tungro. Tanaman pada fase pembentukan anakan (umur 30-45 HST) ialah fase yang paling gampang terjangkit dan paling kritis bagi perkembangan tungro.


Dinamika populasi wereng hijau pada teladan tanam padi-padi-padi sanggup berkembang hingga pertengahan pertumbuhan tanaman. Populasi wereng hijau tidak berkembang pada teladan tanam padi-bera-padi atau padi-palawija-padi. Kepadatan populasi wereng hijau pada demam isu hujan dan demam isu kemarau tidak berbeda, tetapi puncak kepadatan populasi wereng hijau lebih tinggi pada demam isu hujan daripada demam isu kemarau.


Puncak kepadatan populasi tertinggi terjadi pada tengah fase pertumbuhan tumbuhan (8 ahad sehabis tanam). Pada areal persawahan dengan waktu tanam padi yang tidak serempak, wereng hijau cenderung bermigrasi dari tumbuhan bau tanah ke tumbuhan muda dan tumbuhan yang lebih peka.


Aktivitas wereng hijau yang berasal dari teladan tanam tidak serempak cenderung lebih aktif daripada koloni yang berasal dari teladan tanam serempak. Selain itu, acara memencar wereng hijau dipengaruhi oleh kondisi pengairan lahan.


Aktivitas wereng hijau rendah pada kondisi macak-macak dan basah, tetapi aktivitasnya meningkat pada kondisi lahan kering. Tinggi rendahnya intensitas penyakit tungro berkorelasi positif dengan fluktuasi populasi wereng hijau jikalau tersedia sumber inokulum tungro.


Strategi Pengendalian Penyakit Tungro dan Populasi Wereng Hijau


Strategi pengendalian penyakit tungro dan populasi wereng hijau meliputi:



  1. Penanaman padi secara serempak pada area yang luas minimal 25 ha,

  2. Pengaturan waktu tanam supaya tumbuhan padi berumur lebih dari 45 HST dikala terjadinya puncak kepadatan populasi wereng hijau dan intensitas tungro,

  3. Pengolahan tanah dilakukan segera sehabis panen, hal ini disebabkan untuk mencegah tumbuhnya singgang yang merupakan sumber inokulum tungro,

  4. Penanaman jajar legowo pada tumbuhan padi dengan sebaran ruang legowo, wereng hijau kurang aktif berpindah antar rumpun sehingga penyebaran tungro menjadi terbatas,

  5. Tidak menanam varietas rentan wereng hijau maupun rentan terhadap virus tungro dalam kurun waktu minimal 3 demam isu tanam,

  6. Apabila terjadi Luas Tambah Serangan (LTS) 2 kali dari luas serangan sebelumnya dan curah hujan >200 mm, maka hendaknya dianjurkan menanam varietas padi yang tahan serangan tungro,

  7. Gunakan karbofuran di persemaian dan pertanaman padi untuk tempat endemis,

  8. Pemupukan berimbang sesuai takaran sesuai dengan rekomendasi setempat,

  9. Pemusnahan sumber serangan: singgang, gulma, bibit tanaman, dan tumbuhan padi yang terinfeksi virus,

  10. Pergiliran tanaman dengan komoditas selain padi untuk tempat endemis atau dibedakan beberapa saat,

  11. Pengendalian vektor dengan agens hayati (Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana) dan pestisida botani (sambilata, mimba, mindi),

  12. Penggunaan insektisida sebelum semai dan tumbuhan fase vegetatif untuk tempat endemis dengan insektisida yang efektif dan masih direkomendasikan,

  13. Pengamatan yang intensif yang dilakukan oleh petani dan petugas pengamat hama dan penyakit-pengendali organisme pengganggu tumbuhan (PHP-POPT),

  14. Peningkatan pengetahuan petani melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT), dan


Apabila pengendalian hayati tidak bisa mengatasi hama dan penyakit, maka alternatif terakhir yang dilakukan ialah pengendalian memakai pestisida kimia. Namun tetap mengutamakan keseluruhan taktik pengendalian penyakit tungro dan populasi wereng hijau.


Sumber: Dini Yuliani (BPTP Subang, 2017)



Sumber https://kabartani.com