√ Cara Mengatasi Bisul Cacing Hati Pada Ternak Ruminansia
Kabartani.com – Infeksi cacing hati (fasciolosis) pada ternak ruminansia (sapi dan kerbau) di Indonesia merupakan penyakit parasiter yang disebabkan oleh cacing daun, Fasciola gigantica yang menyerang hati ternak.
Pengendalian fasciolosis pada ternak ruminansia pada prinsipnya memutus daur hidup cacing. Cara ini sanggup memperlihatkan hasil maksimal kalau dilakukan secara massal dalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini mengingat bahwa penyebaran jerawat cacing hati melibatkan lingkungan (karena disebarkan oleh siput Lymnaea rubiginosa), pemanfaatan limbah pertanian (jerami padi), dan penggunaan padang gembalaan secara bersamaan di tempat tersebut.
Untuk itu, apabila seluruh peternak dalam satu wilayah melaksanakan pengendalian penyakit ini secara bahu-membahu maka fasciolosis pada ternak akan sanggup segera tertanggulangi. Beberapa pertimbangan yang perlu diambil dalam melaksanakan pengendalian dengan cara pengobatan pada ternak antara lain :
- Tingkat pencemaran metaserkaria dalam hijauan,
- Populasi siput Lymnaea rubiginos di lapangan,
- Pencemaran telur cacing di lapangan,
- Waktu yang dibutuhkan cacing hati untuk menjadi cukup umur dalam badan ternak (PPP),
- Potensi flukisida dalam membunuh cacing hati pada aneka macam umur cacing di dalam badan ternak,
Pengendalian Penyakit Cacing Hati

Secara umum taktik penanggulangan penyakit ini didasarkan pada demam isu (basah dan kering) lantaran siklus tanam padi irigasi juga menyesuaikan kedua demam isu tersebut. Pada demam isu basah, populasi siput sangat tinggi yang menyebabkan tingkat pencemaran metaserkaria pada hijauan juga tinggi, sedangkan petani dalam menghadapi demam isu tanam juga sangat sibuk.
Untuk itu pada demam isu berair ini pengendalian cacing hati lebih ditekankan pada tindakan-tindakan pencegahan terhadap jerawat dan atau menekan serendah mungkin untuk terjadinya pencemaran lingkungan oleh metaserkaria. Hal ini sanggup dilakukan antara lain dengan cara :
1. Limbah sangkar hanya digunakan sebagai pupuk pada tanaman padi apabila sudah dikomposkan terlebih dahulu, sehingga telur Fasciola sudah mati.
2. Mengandangkan sapi dan itik secara bersebelahan sehingga kotorannya tercampur sewaktu sangkar dibersihkan.
3. Pengambilan jerami dari sawah akrab kandang, kalau terpaksa digunakan sebagai pakan ternak harus dilakukan pemotongan sedikit di atas tinggi galengan atau sekitar 1-1,5 jengkal dari tanah.
4. Penyisiran jerami biar daun padi yang kering terlepas akan sangat mengurangi pencemaran oleh metaserkaria pada jerami.
5. Jerami yang diambil terlebih dahulu dijemur selama minimal 2-3 hari berturut-turut di bawah sinar matahari dan dibolak-balik selama penjemuran sebelum diberikan untuk pakan.
6. Tidak menggembalakan ternak di tempat berair dan atau pernah diairi dalam jangka waktu tertentu sehingga cocok sebagai habitat siput L. rubiginosa.
Pada demam isu kering, pengendalian fasciolosis lebih baik ditekankan untuk melaksanakan pengobatan pada ternak secara massal dalam suatu kelompok masyarakat. Jenis flukisida yang akan digunakan untuk pengobatan memilih kapan dan berapa kali ternak harus diobati.
Untuk flukisida yang sanggup membunuh segala umur cacing hati cukup dilakukan pengobatan sekali saja sekitar 6-8 minggu dari panen padi terakhir (Agustus), sedangkan apabila memakai obat cacing yang hanya bisa membunuh cacing cukup umur saja sebaiknya dilakukan dua kali setahun ialah pertama bulan Agustus dan kedua beberapa ahad sebelum demam isu penghujan datang (awal Oktober).
Pemberian obat cacing pada ternak di demam isu kemarau ini akan bernilai ganda. Pertama dengan membunuh semua cacing hati yang ada pada ternak, maka ternak terbebas dari infeksi.
Kedua, lantaran tidak ada jerawat cacing hati gres (metaserkaria mati kekeringan dan kepanasan), maka limbah sangkar yang dihasilkan ternak tidak mengandung telur cacing sehingga tidak terjadi pencemaran habitat siput oleh telur cacing di demam isu penghujan berikutnya. Waktu pengobatan ini ditetapkan dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan:
- Pada demam isu kemarau, sebagian besar siput mati lantaran habitatnya kering, sehingga sisa-sisa telur cacing hati dalam tinja ternak tidak akan menemukan siput lagi kalau menetas.
- Metaserkaria yang masih tertinggal di lapangan akan mati kekeringan pada demam isu kemarau, sehingga tidak ada jerawat ulang pada ternak.
- Dalam waktu yang bersamaan ternak dan lingkungan akan terbebaskan dari parasit. Ternak bebas jerawat cacing hati dan lingkungan higienis dari cemaran telur cacing maupun metaserkaria.
Pada demam isu kemarau ini juga merupakan kesempatan yang baik sekali untuk penyimpanan hijauan (jerami padi) yang dikeringkan, atau difermentasi terlebih dahulu sebelum disimpan.
Pengomposan limbah sangkar baik secara alami maupun penambahan mikroba tertentu sangat baik untuk membunuh telur cacing, khususnya apabila proses dekomposisi limbah sangkar sanggup menghasilkan peningkatan suhu kompos melebihi 55°C, lantaran pada suhu tersebut semua jenis telur cacing akan mati.
Simak juga :
Sumber https://kabartani.com