Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ 26 Pola Makna Denotasi Dan Konotasi Dalam Kalimat Bahasa Indonesia

Konten [Tampil]

Makna denotasi dan konotasi yaitu dua diantara jenis-jenis makna kata ada yang ada. Makna denotasi merupakan makna sesungguhnya dari suatu kata, sedangkan makna konotasi yaitu makna kiaas atau tidak sesungguhnya yang terkandung dalam suatu kata. Agar kita lebih memahami kedua makna kata itu, berikut ditampilkan beberapa pola keduanya yang ditampilkan dalam format kalimat sebagaimana yang tertera di bawah ini!


1. Makna Denotasi



  • Kambing Pak Hadi yang akan disembelih adalah kambing hitam yang memiliki kualitas yang baik.

  • Tadi siang, aku memakan hati ayam di rumah makan itu.

  • Kemarin, saya melihatnya menggunakan kemeja tangan panjang.

  • Saat bermain bulu tangkis, tangan kanan Andri tiba-tiba terkilir.

  • Peternakan itu merupakan peternakan sapi perah yang pernah ada.

  • Bau kencur dari kuliner itu begitu pekat tercium hidung.

  • Cuci tanganlah dahulu sebelum menyantap makanan.

  • Ibu membeli benang merah dari toko itu.

  • Setelah final bersantap siang bersama di pinggir danau, kami pun lantas menggulung tikar yang kami bawa itu.

  • Ibu guru berujar bahwa kami harus mengangkat tangan kami jikalau ada hal yang hendak ditanyakan soal mata pelajaran tersebut.

  • Entah semenjak kapan tulang punggungku terasa begitu sakit.

  • Wahana paralayang itu sungguh menakjubkan ketika diterbangkan ke angkasa, sehingga saya pun menjadi lupa daratan karenanya.

  • Meja hijau itu merupakan meja berguru Faris yang diberi cat berwarna hijau.


2. Makna Konotasi



  • Pria itu dituduh sebagai kambing hitam pada masalah tersebut. (kambing hitam: orang yang dianggap bersalah)

  • Sikapnya kepadaku menciptakan aku makan hati karenanya. (makan hati: dongkol, kecewa)

  • Si tangan panjang itu berhasil ditangkap dan dibawa pribadi ke kantor polisi. (tangan panjang: pencuri)

  • Pria itu merupakan tangan kanan dari pak direktur. (tangan kanan: orang kepercayaan)

  • Para buruh merasa bahwa perusahaan daerah mereka bekerja hanya menyebabkan mereka sebagai ssapi perah belaka. (sapi perah: orang yang dimanfaatkan oleh orang lain demi sebuah keuntungan)

  • Di perusahaan itu, saya hanyalah anak wangi kencur belaka. (anak wangi kencur: anak baru, orang yang belum berpengalaman)

  • Terkait duduk kasus tersebut, pihak perusahaan justru malah bersikap cuci tangan. (cuci tangan: tidak mau peduli dan bertanggung jawab atas suatu permasalahan)

  • Film itu terasa kurang menarik karena benang merah antara satu adegan ke lain adegannya sangatlah tidak padu. (benang merah: hubungan)

  • Karena duduk kasus ekonomi, perusahaan itu pun harus rela gulung tikar. (gulung tikar: bangkrut)

  • Aku tidak akan angkat tangan sebelum cita-citaku itu menjadi kenyataan. (cuci tangan: menyerah)

  • Sejak suaminya meningal, Bu Ningsih otomatis menjadi tulang punggung bagi ketiga anaknya. (tulang punggung: tumpuan bagi orang lain)

  • Kesuksesan instan yang beliau peroleh menciptakan dirinya menjadi lupa daratan. (lupa daratan: sombong; lupa diri)

  • Kasus sengketa tanah itu telah dibawa ke meja hijau. (meja hijau: pengadilan)


Itulah beberapa pola makna denotasi dan konotasi dalam kalimat bahasa Indonesia. Jika ingin menambah acuan soal makna kata, pembaca bisa membuka beberapa artikel berikut, yaitu: makna tematik dan contohnya, contoh makna lokusi, contoh makna ilokusi, contoh makna perlokusi, makna idiomatik dan contohnya, serta makna kontekstual dan contohnya. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai makna kata khususnya, mau pun bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan juga terima kasih banyak.



Sumber aciknadzirah.blogspot.com