√ 6 Kunci Sukses Budidaya Bawang Putih Produksi Tinggi Dan Ramah Lingkungan
Kabartani.com – Bedasarkan hasil kajian Budidaya Bawang Putih Ramah Lingkungan yang dilakukan oleh BPTP Jawa Tengah, bahwa teknologi budidaya yang dikaji pada tumbuhan bawang putih dengan perbaikan budidaya memakai varietas unggul bawang putih Tawangmangu Baru (TMB) dan Lumbu Hijau.
Kemudian dikombinasikan dengan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi penambahan Pupuk Pelengkap Cair (PPC) dan penggunaan agensia hayati untuk pengendalian dini sanggup meningkatkan hasil bawang putih, memperbaiki mutu dan menunjukkan laba bagi petani.
Berikut ini komponen teknologi budidaya Bawang Putih ramah lingkungan:
1. Bibit Sehat dan Optimal
Dalam budidaya bawang putih, bibit merupaan komponen teknologi yang memegang peranan sangat penting, disamping memerlukan biaya yang cukup tinggi, juga sangat memilih keberhasilan produksi maupun pencapaian produktivitasnya.

Beberapa kriteria bibit bawang putih yang baik, yaitu:
a. Bebas hama dan penyakit, minimal sanggup diketahui sumber bibit berasal dari pertanaman yang sehat atau dari lokasi yang belum banyak terinfeksi oleh hama dan penyakit.
b. Kemurnian varietas terjamin, diantaranya ditandai dengan adanya label sertifikasi, atau minimal sanggup diketahui kemurnian/keragamannya dari keragaan pertanaman sebelumnya.
c. Sudah renta dan bermutu, diantaranya ditandai dengan ukuran umbi yang sedang-besar, pangkal batang padat berisi dan keras, siung bernas dan besar minimal berukuran 1,5-3,0 gram. Apabila akan dipakai untuk perbenihan, maka benih yang berukuran lebih besar akan menghasilkan kualitas bibit yang lebih baik.
d. Perlakuan benih, untuk melindungi bibit dari kemungkinan nanah hama dan penyakit serta guna membantu menyeragamkan daya tumbuh bibit, maka sebaiknya diberi perlakukan benih sebelum ditanam dan sanggup memakai agensia hayati PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).
2. Penyiapan Lahan
a. pH tanah 5,5 – 7,0 dan apabila kurang perlu dilakukan aplikasi dengan kapur pertanian menyerupai dolomit dengan takaran 0,5 – 1,0 ton/ha.

b. Kapur pertanian sebaiknya diaplikasikan bersamaan dengan pengolahan tanah ke-I atau paling lambat pada ketika pembuatan bedengan. Aplikasi kapur sebaiknya paling lambat dilakukan seminggu sebelum tanam. Selain kapur, pemberian pupuk sangkar sebaiknya juga dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah ke-I atau paling lambat pada ketika pembuatan bedengan.
c. Setelah bedengan siap, aplikasi PGRP dengan takaran 10 cc/liter, banyaknya air dan PGPR sesuaikan luas areal tanaman. Aplikasi secara merata diatas permukaan tanah hingga berair pada waktu sore hari.
3. Tanam dan Pengaturan Jarak Tanam
Cara tanam dan pengaturan jarak tanam bawang putih memegang peranan cukup penting dalam memilih tingkat produksi maupun kualitas umbi yang akan dihasilkan. Penanaman umbi bawang putih pada jarak tanam rapat akan cenderung menghasilkan umbi yang ukurannya relatif kecil, sedangkan pada jarak tanam yang lebih renggang cenderung akan dihasilkan umbi bawang putih yang berukuran lebih besar.

Ukuran umbi bibit juga menjadi pertimbangan penerapan jarak tanam. Jarak tanam yang direkomendasikan yaitu sebagai berikut:
- Bobot siung bibit > 1,5 gram, ditanam dengan jarak 15 x 20 cm.
- Bobot siung bibit < 1,5 gram, ditanam dengan jarak 10 x 15 cm atau 15 x 15 cm.
- Ukuran siung bibit bawang putih juga penting untuk dipertimbangkan dalam kaitannya dengan perencanaan kebutuhan bibit yang harus disiapkan. Untuk ukuran siung bibit sekitar 3 gram/siung dibutuhkan ± 1.600 kg/ha, sedangkan untuk ukuran siung bibit sekitar 1 gram/siung dibutuhkan ± 670 kg/ha.
4. Pemupukan
Pemupukan bawang putih diberikan dalam 2 jenis, yaitu pupuk organik dan anorganik.

a. Pemupukan Organik
Sumber pupuk organik yang sanggup dipakai untuk pemupukan bawang putih antara lain:
- Pupuk sangkar ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba), mempunyai kelebihan memperbaiki struktur tanah (kaya kandungan serat dan karbon).
- Pupuk kandangn kotoran ayam, mempunyai kelebihan yakni kandungan unsur N yang lebih tinggi, tingkat kematangannya yang lebih baik, kandungan pH pupuk cenderung aak masam, kandungan unsur mikro besi (Fe) yang relatif tinggi.
- Aplikasi pupuk organik: pupuk organik sebaiknya yang sudah matang atau yang sudah dikomposkan, campurkan pupuk irganik yang sudah dikomposkan dengan Trichoderma Sp padat. Berikan pupuk organik dengan takaran kurang lebih 10-20 ton/ha pada tanah sebelum tanam atau bersamaan dengan pengolahan tanah.
b. Pupuk Anorganik
Pemupukan dengan memakai pupuk anorganik atau kimia N, P, K, S direkomendasikan memakai takaran 200 kg N/ha, 180 kg P/ha, 60 kg K/ha dan 142 kg S/ha. Sedangkan takaran dan waktu aplikasi dilapangan sanggup dijabarkan sebagai berikut:

Untuk melengkapi kebutuhan utrisi pada tumbuhan bawang putih yang cukup tinggi. Selain pemupukan memakai pupuk anorganik (kimia N,P,K,S) dan pupuk organik padat, maka dianjurkan memakai pupuk suplemen yaitu pupuk organik cair (POC) dan atau pupuk suplemen cair (PPC).
Aplikasi pupuk organik cair dan atau pupuk suplemen sanggup diberikan dengan takaran 10 tutup botol setiap 14 liter/tangki, dan disemprotkan pada tumbuhan maupun diatas permukaan bedegan. Aplikasi POC/PPC sebaiknya dilakukan pada umur 10, 17, 24, 31, 38 hari sesudah tanam. Adapun beberapa alternatif POC/PPC yang sanggup dipergunakan sebaiknya yang tersedia dilokasi setempat.
5. Pengairan dan Penyiangan

Pengairan pada pertanaman bawang putih biasanya hanya dilakukan pada demam isu kemarau dengan tujuan untuk menjaga kelembaban tanah sehingga tidak mengganggu absorpsi unsur hara oleh tanaman. Sedangkan penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma disekitar areal pertanaman.
6. Pengendalian OPT
OPT utama yang sering menyerang tumbuhan bawang putih, antara lain Thrips tabaci yang sanggup menimbulkan kerusakan sebesar 80%, Spodoptera exigua, Fusarium sp., Alternaria porii dan Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV).

Pengendalian pertama dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu dengan memakai benih sehat, musuh alami, pengendalian secara kultur teknis, penggunaan perangkap, sanitasi, dan penggunaan pestisida menurut ambang pegendalian.
Pengendalian dengan pestisida sintetik harus dilakukan dengan benar, sempurna dalam hal pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya.
Secara mekanisme operasional, urutan pengendalian OPT menurut konsep PHT yaitu sebagai berikut:
- Pergunakan agensia hayati untuk langkah pengendalian dini,
- Lakukan pengamatan dan identifikasi terhadap OPT di lahan secara berkala,
- Tentukan beberapa alternatif jenis tindakan yang perlu segera dilakukan sesuai dengan kondisi serangan dan jenis OPT.
- Pengendalian OPT secara kimiawi dilakukan apabila serangan mencapai ambang pengendalian, sesuai dengan kondisi serangan OPT dan fase/stadia tumbuhan serta sesuai dengan teknik yang dianjurkan.
Baca juga: Panduan Membuat Pestisida Nabati Dari Bawang Putih (Allium Sativum L)
Panen
Bawang putih yang akan dipanen harus mencapai cukup umur, tergantung pada varietas yang ditanam, lokasi penanaman dan tujuan produksi untuk konsumsi atau benih.
Umur panen yang biasa dijadikan ajaran berkisar antara 100-120 hari. Ciri utama bawang putih yang telah siap panen antara lain yaitu terjadinya perubahan warna pada daun dari hijau menjadi kuning (kuning sehat, bukan kuning bercak) dengan tingkat kelayuan 35-60% atau kering dan tangkai batang telah mengeras.
Panen dilakukan dengan cara mencabut tumbuhan dengan tangan pada ketika cuaca cerah. Umbi dibersihkan sekaligus pemilihan (grading) untuk mengelompokkan menurut kualitasnya. Untuk hasil panen selanjutnya diikat setiap 20-30 rumpun/ikat dan dijemur selama 15 hari hingga batangnya kering.
Pasca Panen
Kegiatan pasca panen yang paling penting untuk bawang putih untuk tujuan konsumsi maupun benih yaitu pengeringan umbi. Pengeringan umbi sanggup dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Dijemur dibawah sinar matahari, dan sebaiknya umbi ditutup dengan memakai daunnya untuk menghindari umbi bawang putih terkena sinar matahari langsung.
- Selesai dijemur, selanjutnya dikering-anginkan dengan memakai rak berlapis atau dengan cara digantung ditempat yang teduh, baik di kebun atau dirumah.
- Pengasapan, yaitu dengan cara menempatkan bawang putih diatas para-para yang berada didapur. Panas dan asap berasal dari air yang sengaja dimasak. Para-para juga sanggup dipakai sebagai daerah penyimpanan bawang putih.
- Penyimpanan di gudang, apabila umbi akan dipakai untuk tujuan bibit maka sebaiknya dilakukan fumigasi memakai tablet 55% Phostoxin guna membantu memperpanjang umur umbi bawang putih hingga sekitar 8 bulan.
Baca juga:
- Berbagi Informasi 13 Langkah Bawang Putih Berproduksi >6 ton/ha
- Menanam Bawang Putih Media Tanam Cangkang Telur
Demikian gosip mengenai 6 Kunci Sukses Budidaya Bawang Putih Produksi Tinggi dan Ramah Lingkungan. Semoga bermafaat bagi sahabat tani sekalian. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi kami via email di redaksi.kabartani@gmail.com.
Sumber: BPTP Jawa Tengah, 2015
Sumber https://kabartani.com